Pasar Pagi Samarinda Belum Optimal, Kios Belum Beroperasi Jadi Sorotan DPRD
Potret Pasar Pagi Samarinda terbaru
Disdag berencana menggelar dialog langsung di kawasan Pasar Pagi pada September 2026. Salah satu pembahasannya adalah kondisi keterisian pasar.
Pasalnya, masih terdapat sekitar 800 lapak yang belum beroperasi.
“Kami terbuka menerima masukan dari para pedagang. Bulan ini akan kami jadwalkan pertemuan langsung di Pasar Pagi. Pembahasannya bukan hanya mengenai penurunan omzet, tetapi bagaimana ada komitmen bersama untuk membenahi sistem secara keseluruhan,” kata Nurrahmani.
Dengan dialog tersebut, pemerintah tidak hanya ingin membahas persoalan omzet pedagang, tetapi juga mengevaluasi sistem perdagangan di Pasar Pagi secara menyeluruh.
Sistem Listrik Masih Dikonsultasikan
Untuk persoalan kelistrikan, Dinas Perdagangan Samarinda tengah berkonsultasi dengan Inspektorat dan PLN.
Pembahasan dilakukan untuk mencari skema yang dapat diterapkan tanpa bertentangan dengan ketentuan mengenai retribusi daerah.
Nurrahmani menjelaskan, Dinas Perdagangan tidak memiliki kewenangan untuk memperjualbelikan listrik kepada pedagang.
“Secara aturan, Disdag tidak diperbolehkan menjual listrik. Karena itu, alternatif yang diberikan PLN akan kami sesuaikan dengan regulasi dan dikonsultasikan bersama Inspektorat. Harapannya tidak melanggar ketentuan, tetapi tetap memberikan kemudahan kepada pedagang,” ungkapnya.
Persoalan Pasar Pagi kini tidak hanya berkaitan dengan keterisian kios, tetapi juga bagaimana pemerintah dan pedagang membangun sistem yang membuat aktivitas perdagangan kembali berjalan optimal.
Bagi pedagang, pasar yang hidup berarti lebih dari sekadar kios yang terisi. Di dalamnya ada omzet, pelanggan, dan keberlanjutan usaha yang menjadi sumber penghidupan mereka. (adv)





