Terlalu Banyak Berita Buruk? Ini Dampak Doomscrolling yang Ternyata Bisa Kikis Empati dan Kesehatan Mental
Mengenal Apa Itu Compassion Collapse?
ILUSTRASI - Doomscrolling picu compassion collapse, empati melemah, dan mental jadi kewalahan (Foto: Canva)
Bukan Tanda Lemah, Tapi Sinyal Perlu Penyesuaian
Penting untuk dipahami bahwa compassion collapse bukan kegagalan moral atau tanda kelemahan karakter.
Justru ini adalah respons manusiawi terhadap beban emosional yang berlebihan.
Kunci utamanya bukan berhenti peduli, melainkan mengatur ulang cara terlibat dengan informasi.
Jumlah berita yang bisa dikonsumsi secara sehat berbeda bagi setiap orang, tergantung kondisi mental, fisik, dan stresor lain dalam hidupnya.
Membatasi paparan berita, menetapkan waktu khusus untuk mengakses informasi, serta fokus pada tindakan nyata di lingkup yang bisa kita pengaruhi, seperti keluarga, pekerjaan, dan komunitas, adalah langkah yang lebih berkelanjutan.
Menjaga Empati agar Tetap Sehat
Welas asih bersifat dinamis.
Ia bisa diperkuat melalui praktik refleksi diri, mindfulness, dan batasan digital yang jelas.
Paparan yang terukur dan berkelanjutan memungkinkan seseorang tetap peduli tanpa kehilangan keseimbangan.
Di era informasi tanpa batas, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan tetap terhubung pada realitas sosial.
Mengurangi doomscrolling bukan berarti apatis, melainkan strategi agar empati tetap hidup dalam jangka panjang.
(apr)




