Terlalu Banyak Berita Buruk? Ini Dampak Doomscrolling yang Ternyata Bisa Kikis Empati dan Kesehatan Mental
Mengenal Apa Itu Compassion Collapse?
ILUSTRASI - Doomscrolling picu compassion collapse, empati melemah, dan mental jadi kewalahan (Foto: Canva)
AVNMEDIA.ID - Fenomena doomscrolling atau kebiasaan menggulir berita negatif tanpa henti kian marak terjadi.
Di tengah derasnya arus informasi tentang krisis, konflik, hingga skandal global, banyak orang tanpa sadar mengalami apa yang disebut sebagai compassion collapse atau runtuhnya kapasitas welas asih.
Paparan berita yang terus-menerus, terutama di malam hari, tak hanya mengganggu kualitas tidur, tetapi juga berdampak serius pada kesehatan mental.
Bahkan individu yang dikenal cerdas secara emosional pun bisa kewalahan menghadapi banjir informasi yang sarat penderitaan.
Apa Itu Compassion Collapse?
Compassion collapse adalah kondisi ketika kemampuan seseorang untuk merasakan empati menurun akibat paparan berkepanjangan terhadap penderitaan dalam skala besar.
Awalnya, seseorang mungkin merasa terpanggil untuk terus mengikuti berita sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial.
Namun seiring waktu, sistem saraf bisa mengalami kelelahan.
Tubuh dan pikiran terus berada dalam mode siaga (hypervigilance), sulit tidur, cemas berlebihan, hingga kesulitan fokus pada pekerjaan dan keluarga.
Alih-alih semakin peduli, seseorang justru terjebak dalam dua kondisi ekstrem: kewalahan secara emosional atau mati rasa.
Doomscrolling dan Dampaknya pada Kesehatan Mental
Doomscrolling sering terjadi tanpa disadari.
Seseorang terus memeriksa berita, memperbarui linimasa, atau mencari informasi tambahan tentang isu tertentu, meskipun sadar bahwa hal itu memperburuk suasana hati.
Kebiasaan ini bisa memicu:
- Gangguan tidur
- Kecemasan meningkat
- Sulit berkonsentrasi
- Ledakan emosi yang tidak biasa
- Kelelahan emosional
Dalam jangka panjang, kondisi ini menyerupai gejala burnout.
Bedanya, burnout biasanya terkait tekanan kerja, sementara compassion collapse muncul akibat paparan terus-menerus terhadap berita dan penderitaan global tanpa jeda pemulihan.
Mengapa Empati Bisa “Runtuh”?
Secara psikologis, manusia memiliki batas kapasitas dalam memproses penderitaan.
Ketika informasi yang diterima terlalu besar skalanya, misalnya konflik internasional, bencana massal, atau krisis kemanusiaan, otak kesulitan “mencerna” semuanya.
Penelitian menunjukkan bahwa ketika penderitaan ditampilkan dalam jumlah besar, respons empati justru bisa menurun.
Inilah sebabnya kampanye kemanusiaan sering menyoroti satu kisah personal, bukan keseluruhan tragedi.
Skala yang terlalu luas bisa membuat seseorang kewalahan hingga akhirnya menutup diri secara emosional.
Tanda-Tanda Anda Mengalami Compassion Collapse
Beberapa indikator yang patut diwaspadai antara lain:
- Konsumsi berita terasa kompulsif dan sulit dihentikan
- Tidur terganggu karena terus memikirkan isu tertentu
- Emosi mudah meledak di tempat kerja atau rumah
- Merasa lelah secara emosional dan sinis
- Tidak lagi hadir secara penuh untuk orang-orang terdekat
Jika hal-hal ini terjadi, kemungkinan besar kapasitas empati Anda telah melampaui batas sehat.
Bukan Tanda Lemah, Tapi Sinyal Perlu Penyesuaian
Penting untuk dipahami bahwa compassion collapse bukan kegagalan moral atau tanda kelemahan karakter.
Justru ini adalah respons manusiawi terhadap beban emosional yang berlebihan.
Kunci utamanya bukan berhenti peduli, melainkan mengatur ulang cara terlibat dengan informasi.
Jumlah berita yang bisa dikonsumsi secara sehat berbeda bagi setiap orang, tergantung kondisi mental, fisik, dan stresor lain dalam hidupnya.
Membatasi paparan berita, menetapkan waktu khusus untuk mengakses informasi, serta fokus pada tindakan nyata di lingkup yang bisa kita pengaruhi, seperti keluarga, pekerjaan, dan komunitas, adalah langkah yang lebih berkelanjutan.
Menjaga Empati agar Tetap Sehat
Welas asih bersifat dinamis.
Ia bisa diperkuat melalui praktik refleksi diri, mindfulness, dan batasan digital yang jelas.
Paparan yang terukur dan berkelanjutan memungkinkan seseorang tetap peduli tanpa kehilangan keseimbangan.
Di era informasi tanpa batas, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan tetap terhubung pada realitas sosial.
Mengurangi doomscrolling bukan berarti apatis, melainkan strategi agar empati tetap hidup dalam jangka panjang.
(apr)




