Film Phantom Thread Ungkap Sisi Gelap Perfeksionisme dan Represi Emosi
Dugaan Gangguan Psikologis dan Siklus Emosi
ILUSTRASI - Film Phantom Thread ungkap sisi gelap perfeksionisme sebagai cara menekan emosi di balik kesuksesan (Foto: Canva)
Sejumlah penonton dan pengamat film menilai karakter Reynolds menunjukkan gejala yang menyerupai gangguan bipolar.
Ketakutannya terhadap emosi dipahami sebagai ketakutan terhadap fase depresi yang kerap mengikuti euforia atau kebahagiaan.
Dalam konteks ini, perfeksionisme menjadi “benteng” semu, sebuah keyakinan bahwa disiplin dan kontrol total dapat mencegah kehancuran emosional, meski pada kenyataannya justru memperkuat siklus tersebut.
Akhir Film dan Pesan tentang Penerimaan Diri
Menjelang akhir film, Phantom Thread menghadirkan secercah harapan.
Melalui perspektif Alma, Reynolds mulai menerima sisi lemahnya, bagian dari diri yang selama ini berusaha ia singkirkan.
Alih-alih menghapus kelemahan, film ini menyampaikan pesan tentang pentingnya berdamai dengan seluruh spektrum emosi manusia.
Perfeksionisme tidak lagi diposisikan sebagai tujuan, melainkan sebagai sesuatu yang perlu dipahami, dikendalikan, dan dilunakkan dengan penerimaan diri.
(apr)



