Film Phantom Thread Ungkap Sisi Gelap Perfeksionisme dan Represi Emosi
Dugaan Gangguan Psikologis dan Siklus Emosi
ILUSTRASI - Film Phantom Thread ungkap sisi gelap perfeksionisme sebagai cara menekan emosi di balik kesuksesan (Foto: Canva)
AVNMEDIA.ID - Film Phantom Thread kembali menjadi perbincangan karena dinilai mampu menggambarkan sisi gelap perfeksionisme yang kerap tersembunyi di balik citra kesuksesan dan disiplin tinggi.
Karya sutradara Paul Thomas Anderson ini menyoroti bagaimana perfeksionisme tidak selalu menjadi kekuatan, melainkan dapat berfungsi sebagai mekanisme untuk menekan dan menghindari emosi.
Melalui karakter utama Reynolds Woodcock, seorang desainer busana ternama di London era 1950-an, film ini menghadirkan potret psikologis individu yang hidup dalam kendali ketat atas rutinitas, pekerjaan, dan relasi personal.
Reynolds Woodcock dan Perfeksionisme yang Menguasai Hidup
Reynolds Woodcock digambarkan sebagai sosok yang sangat teliti, kaku, dan terobsesi pada kesempurnaan.
Emosi baginya adalah ancaman yang harus dikendalikan.
Ia meredam kekacauan batin melalui rutinitas ekstrem, disiplin kerja berlebihan, serta kemarahan terhadap lingkungan sekitar.
Alih-alih melakukan refleksi mendalam atas perasaannya, Reynolds memilih hidup berdasarkan dorongan naluriah dan kompulsif.
Hubungan personal pun diperlakukan layaknya karya busana, dibentuk, dikendalikan, dan disesuaikan dengan citra dirinya sendiri.
Relasi Kuasa dan Ketidakmampuan Mengolah Emosi
Dalam relasinya dengan Alma, perempuan yang kemudian menjadi istrinya, sisi rapuh Reynolds perlahan terkuak.
Alma menjadi salah satu dari sedikit orang yang berani menembus dinding perfeksionisme yang dibangun Reynolds.
Meski tampak dominan dan berkuasa, Reynolds sejatinya menghindari konflik dan kebisingan karena ketakutan emosional yang mendalam.
Ketika gagal mengendalikan perasaannya, ia justru jatuh dalam keputusasaan dan menunjukkan sisi kekanak-kanakan.
Perfeksionisme sebagai Bentuk Pelarian Emosional
Film ini juga menunjukkan bahwa Reynolds tidak hanya membenci konflik, tetapi juga menghindari kebahagiaan.
Ia memandang kegembiraan sebagai sesuatu yang berpotensi berujung pada rasa sakit.
Pola ini merepresentasikan perfeksionisme sebagai strategi untuk menghindari emosi, baik negatif maupun positif.
Kesuksesan tidak pernah cukup memuaskan, sementara kegagalan dibalas dengan kerja obsesif yang semakin intens.
Dari sudut pandang luar, kehidupan Reynolds tampak hampa, meski dibalut prestise dan pencapaian.
Dugaan Gangguan Psikologis dan Siklus Emosi
Sejumlah penonton dan pengamat film menilai karakter Reynolds menunjukkan gejala yang menyerupai gangguan bipolar.
Ketakutannya terhadap emosi dipahami sebagai ketakutan terhadap fase depresi yang kerap mengikuti euforia atau kebahagiaan.
Dalam konteks ini, perfeksionisme menjadi “benteng” semu, sebuah keyakinan bahwa disiplin dan kontrol total dapat mencegah kehancuran emosional, meski pada kenyataannya justru memperkuat siklus tersebut.
Akhir Film dan Pesan tentang Penerimaan Diri
Menjelang akhir film, Phantom Thread menghadirkan secercah harapan.
Melalui perspektif Alma, Reynolds mulai menerima sisi lemahnya, bagian dari diri yang selama ini berusaha ia singkirkan.
Alih-alih menghapus kelemahan, film ini menyampaikan pesan tentang pentingnya berdamai dengan seluruh spektrum emosi manusia.
Perfeksionisme tidak lagi diposisikan sebagai tujuan, melainkan sebagai sesuatu yang perlu dipahami, dikendalikan, dan dilunakkan dengan penerimaan diri.
(apr)



