Tayang di Netflix, Rekap Ashes to Crown Episode 3: Chu Zhao Mulai Bangun Kekuasaan dan Hadapi Intrik Baru Xiao Xun
Episode 3 menjadi momen penting dalam perkembangan karakter Chu Zhao. Setelah berhasil mengubah takdirnya, ia kini mulai membangun fondasi kekuasaan yang sesungguhnya/ X @solflowr
AVNMEDIA.ID - Drama China Ashes to Crown semakin menarik memasuki Episode 3.
Setelah berhasil menggagalkan ambisi Xiao Xun untuk merebut takhta, Chu Zhao kini menghadapi tantangan yang jauh lebih besar: mempertahankan kekuasaan sekaligus melindungi Kaisar muda dari ancaman politik yang terus berdatangan.
Episode terbaru ini memperlihatkan bagaimana Chu Zhao mulai bertransformasi dari seorang korban menjadi pemain utama dalam perebutan kekuasaan di istana.
Pemberontakan Anping Berakhir, Ancaman Belum Usai
Kematian Kaisar resmi mengakhiri Pemberontakan Anping yang sebelumnya mengguncang kerajaan.
Meski berhasil mengubah jalannya sejarah dan menyelamatkan Xiao Yu, Chu Zhao sadar bahwa kemenangannya belumlah sempurna.
Xiao Xun memang gagal menjadi Kaisar, tetapi pria itu masih memiliki pengaruh besar dan jaringan pendukung yang kuat di dalam pemerintahan.
Di tengah situasi yang belum stabil, Deng Yi yang baru saja diangkat sebagai Guru Besar Kekaisaran datang memberikan ucapan selamat kepada Chu Zhao.
Namun percakapan keduanya memperlihatkan bahwa hubungan mereka lebih didasarkan pada kepentingan politik dibanding rasa saling percaya.
Ketika posisi Komandan Pengawal Kekaisaran kosong setelah pemilik sebelumnya dihukum mati karena pengkhianatan, Chu Zhao membuat keputusan penting dengan menyerahkan simbol komando kepada Fu Jiu.
Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Fu Jiu kini menjadi salah satu orang yang paling dipercaya oleh sang Putri Agung.
Chu Cen Khawatir Putrinya Terjebak Permainan Politik Istana
Jauh di wilayah perbatasan, Jenderal Chu Cen menerima laporan mendesak dari ibu kota.
Ia terkejut mengetahui bahwa Kaisar telah wafat dan putrinya kini menyandang gelar Putri Agung Negara.
Meski lega karena Chu Zhao berhasil selamat dari kekacauan politik, Chu Cen justru semakin mengkhawatirkan keselamatannya.
Baginya, peperangan di garis depan jauh lebih mudah dipahami dibanding intrik politik yang penuh pengkhianatan di istana.
Namun sebelum sempat bertindak, serangan musuh di wilayah perbatasan memaksanya kembali memimpin pasukan ke medan tempur.
Xiao Yu Resmi Menjadi Kaisar
Hari penobatan Xiao Yu akhirnya tiba.
Sebagai seorang anak kecil yang baru kehilangan keluarganya, Xiao Yu tampak ketakutan menghadapi situasi yang terjadi di sekelilingnya.
Ia bahkan menolak menaiki kereta kekaisaran jika Chu Zhao tidak ikut mendampinginya.
Keputusan tersebut memicu kritik dari sejumlah pejabat yang menganggap seorang perempuan tidak seharusnya terlibat dalam urusan pemerintahan.
Namun dukungan datang dari Xie Yanlai.
Ia mengingatkan para pejabat bahwa dalam sejarah kerajaan pernah ada perempuan yang memegang kendali pemerintahan dan tetap mampu menjaga stabilitas negara.
Akhirnya Chu Zhao berjalan bersama Xiao Yu menuju upacara penobatan, memperlihatkan kepada seluruh istana bahwa dirinya kini memiliki posisi yang sangat penting dalam pemerintahan baru.
Xie Yanfang Menjadi Sekutu Potensial
Usai penobatan, Chu Zhao bertemu dengan Xie Yanfang, tokoh berpengaruh dari Klan Xie yang selama ini dikenal cerdas dan sulit ditebak.
Xie Yanfang menyampaikan terima kasih karena Chu Zhao telah menyelamatkan Xiao Yu dan menjaga keberlangsungan garis keturunan kekaisaran.





