Tak hanya Konsumsi Media, Kini Kita Hidup di Dalamnya! Kenali Fenomena “Badai Media”
Media Membentuk Emosi Kolektif
ILUSTRASI - Fenomena badai media membuat kita tak sekadar konsumsi informasi, tapi hidup di dalam arus media digital (Foto: Canva)
Pemahaman ini mencakup kesadaran terhadap persuasi, polarisasi, dan dinamika gerakan sosial.
Para ahli mendorong agar literasi media menjadi bagian dari pendidikan formal dan nonformal.
Perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan institusi publik perlu menanamkan kesadaran kritis terhadap pengaruh media.
Hidup di Ekosistem Media Global
Manusia kini hidup di dalam ekosistem media yang membentuk cara berpikir, merasa, berelasi, dan mengambil keputusan.
Pemahaman tentang dampak psikologis media kontemporer kini sama pentingnya dengan kemampuan literasi dasar.
Pengulangan informasi yang keliru dapat menciptakan ilusi kebenaran.
Sebaliknya, masyarakat yang memahami psikologi media cenderung lebih kritis dan sulit dimanipulasi.
Psikologi Media sebagai Keterampilan Bertahan Hidup
Di era “badai media”, psikologi media bukan sekadar disiplin akademik. Ia menjadi keterampilan bertahan hidup yang membantu individu menjaga keseimbangan emosional dan berpikir jernih.
Dengan mengenali cara media memengaruhi emosi dan persepsi, masyarakat dapat membangun ketahanan mental serta berpartisipasi lebih sehat dalam demokrasi digital.
Memahami psikologi media hari ini adalah langkah penting untuk hidup lebih sadar di tengah derasnya arus informasi.
(apr)



