Sering Lupa? Ini Bedanya Kelupaan Wajar dan Tanda Penurunan Kognitif
Peran Kecemasan dan Depresi dalam Kekhawatiran Daya Ingat
ILUSTRASI - Lupa sesekali itu wajar, tapi kapan kelupaan jadi tanda penurunan kognitif? Simak penjelasannya (Foto: Canva)
Sayangnya, pendekatan medis tradisional yang mengandalkan daftar cek dan skrining singkat kerap melewatkannya.
Hal ini menjelaskan mengapa seseorang bisa merasa ada yang salah, sementara sistem kesehatan belum mampu merespons dengan tepat.
Saat Kekhawatiran Justru Menjadi Masalah
Jika dibiarkan, kekhawatiran berlebih tentang daya ingat dapat berdampak nyata.
Beberapa orang menarik diri dari lingkungan sosial, mencoba berbagai suplemen “kesehatan otak” tanpa bukti ilmiah, atau menjalani pemeriksaan mahal berulang kali demi kepastian.
Ironisnya, stres berkepanjangan justru dapat memperburuk perhatian dan memori, menciptakan lingkaran kecemasan yang sulit diputus.
Namun, menepis kekhawatiran begitu saja juga berisiko merusak kepercayaan pasien terhadap layanan kesehatan.
Apa yang Perlu Diperhatikan?
Alih-alih fokus pada satu momen lupa, yang lebih penting adalah pola dari waktu ke waktu. Apakah kelupaan mulai konsisten? Apakah mengganggu aktivitas sehari-hari? Apakah disertai perubahan suasana hati seperti cemas atau depresi?
Konteks emosional dan kemandirian fungsional jauh lebih bermakna dibanding satu kesalahan kecil yang terisolasi.
Pendekatan Lebih Bijak dalam Penuaan Kognitif
Seiring teknologi dan kecerdasan buatan mulai membantu mendeteksi sinyal kognitif dini, fokus utama seharusnya tetap pada pemahaman yang jernih, komunikasi yang empatik, dan tindak lanjut berbasis bukti.
Penuaan kognitif adalah proses yang berlangsung dalam spektrum, begitu pula kekhawatiran tentangnya.
Risiko terbesar bukan pada lupa sesekali, melainkan ketika seseorang menghadapi perubahan memori dan cara berpikir tanpa pendampingan yang jelas, manusiawi, dan penuh empati.
(apr)



