Sering Lupa? Ini Bedanya Kelupaan Wajar dan Tanda Penurunan Kognitif
Peran Kecemasan dan Depresi dalam Kekhawatiran Daya Ingat
ILUSTRASI - Lupa sesekali itu wajar, tapi kapan kelupaan jadi tanda penurunan kognitif? Simak penjelasannya (Foto: Canva)
Kecemasan membuat seseorang lebih waspada terhadap ancaman, termasuk kesalahan kecil.
Depresi dapat memperlambat konsentrasi, fokus, dan kecepatan berpikir.
Kombinasi keduanya membuat fluktuasi kognitif yang normal terasa menakutkan.
Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan gejala kecemasan atau depresi lebih sering melaporkan gangguan memori, meskipun hasil tes kognitif masih normal.
Artinya, rasa tertekan itu nyata, meski diagnosisnya bukan demensia.
Kekhawatiran Ini Bukan Sekadar Soal Lupa
Kekhawatiran tentang daya ingat jarang hanya soal lupa nama atau jadwal.
Di baliknya, sering tersembunyi ketakutan yang lebih dalam: kehilangan identitas, kemandirian, dan kendali atas hidup.
Ingatan adalah fondasi dari siapa kita.
Saat seseorang mulai meragukan memorinya, yang dipertaruhkan bukan hanya fungsi otak, tetapi gambaran diri di masa depan.
Karena itu, kekhawatiran ini perlu dipahami secara utuh, bukan sekadar diukur lewat tes.
Mengapa Tanda Dini Sering Terlewat?
Tanda-tanda awal kekhawatiran kognitif jarang muncul sebagai diagnosis yang jelas.
Ia sering hadir dalam bentuk tidak langsung, seperti janji temu yang terlewat, keluhan samar, atau kekhawatiran dari anggota keluarga.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sinyal-sinyal ini sering tersembunyi dalam bahasa klinis sehari-hari dan muncul jauh sebelum diagnosis formal ditegakkan.



