IHSG Turun Hampir 32 Persen Setahun, Ekonom InFast Sebut Terjadi Fenomena Decoupling antara Ekonomi Riil dan Pasar Saham
Ekonomi Indonesia Tetap Positif di Tengah Pelemahan Bursa Saham
IHSG - Indonesia tumbuh 5,6 persen pada periode yang sama, sementara China dan Maroko masing-masing mencatat pertumbuhan sekitar 5 persen/ Photo: Pexels
AVNMEDIA.ID - Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam berbagai periode waktu memunculkan pertanyaan mengenai kondisi perekonomian nasional.
Namun, menurut Ekonom InFast, Gede Sandra, penurunan pasar saham tidak selalu mencerminkan pelemahan ekonomi riil.
Ia menilai saat ini tengah terjadi fenomena decoupling, yakni kondisi ketika kinerja pasar saham bergerak berlawanan dengan pertumbuhan ekonomi di sektor riil.
Menurut Gede, tren pelemahan pasar saham tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami sejumlah negara lain, termasuk Rusia, Hong Kong, Afrika Selatan, India, Maroko, Sri Lanka, Republik Ceko, Islandia, hingga Kuwait.
Menariknya, sebagian besar negara yang mengalami koreksi pasar saham tersebut merupakan anggota atau mitra ekonomi kelompok BRICS.
IHSG Termasuk Bursa dengan Penurunan Terdalam
Berdasarkan data yang dihimpun InFast dari Trading Economics, IHSG tercatat menjadi salah satu indeks saham dengan penurunan terbesar dalam periode tahunan.
Secara mingguan, bursa saham Rusia (MOEX) mencatat koreksi terdalam sebesar 9,72 persen, disusul Afrika Selatan (SA40) yang turun 6,02 persen dan Indonesia (JCI/IHSG) yang melemah 5,42 persen.
Sementara dalam periode bulanan, Rusia kembali menjadi indeks dengan penurunan terbesar sebesar 13,65 persen, diikuti Hong Kong sebesar 8,54 persen dan Indonesia sebesar 5,2 persen.
Adapun secara tahunan, IHSG mencatat pelemahan paling dalam di antara sejumlah bursa utama dunia dengan koreksi mencapai 31,95 persen.
"Secara tahunan, lima penurunan terdalam terjadi pada Indonesia, Rusia, Hong Kong, India, dan Islandia," ujar Gede Sandra dalam keterangannya.





