Lingkup Psikologi

Tinggalkan Resolusi Tahun Baru, Melepaskan Tujuan Justru Bisa Membawa Rasa Cukup

Rasa Cukup sebagai Kunci Kesejahteraan Emosional

ILUSTRASI - Melepaskan tujuan dinilai bisa membawa ketenangan dan rasa cukup di tengah tekanan budaya produktivitas (Foto: Canva)

AVNMEDIA.ID - Di tengah budaya produktivitas dan pencapaian, resolusi Tahun Baru kerap dipandang sebagai keharusan.

Namun sebuah sudut pandang baru menyebutkan bahwa melepaskan tujuan, alih-alih terus mengejarnya, justru dapat menjadi jalan menuju ketenangan dan rasa cukup dalam hidup.

Gagasan ini menantang kebiasaan modern yang hampir selalu menempatkan tujuan sebagai pusat kehidupan, mulai dari target karier, kesehatan, hingga relasi personal.

Alih-alih memberi kebahagiaan, tujuan yang terus dikejar tanpa henti justru dapat menimbulkan tekanan dan kelelahan emosional.

Budaya Tujuan dan Tekanan untuk Selalu Berhasil

Dalam kehidupan modern, menetapkan tujuan dianggap sebagai tanda disiplin dan kesuksesan.

Ketekunan atau grit bahkan dipuja sebagai kebajikan utama, meski tidak semua orang mampu hidup selaras dengan tuntutan tersebut.

Masalah muncul ketika tujuan tidak lagi menjadi alat, melainkan identitas.

Saat sebuah target gagal dicapai, perasaan gagal pun ikut melekat pada diri.

Tak jarang, seseorang bertahan pada tujuan yang sudah tak lagi relevan hanya karena takut dianggap menyerah.

Padahal, menurut banyak pengamat psikologi, melepaskan tujuan tertentu bukanlah bentuk kelemahan, melainkan keputusan sadar untuk menjaga kesehatan mental.

Rasa Cukup sebagai Kunci Kesejahteraan Emosional

Psikolog Daniel Cordaro mendefinisikan rasa cukup atau contentment sebagai perasaan utuh dan penerimaan tanpa syarat terhadap momen saat ini.

Dalam kondisi ini, seseorang tidak lagi terjebak pada perbandingan “seandainya” yang kerap memicu iri dan penyesalan.

Menariknya, rasa cukup tidak bergantung pada situasi eksternal, melainkan pada cara pandang dan nilai hidup.

Seseorang bisa merasa puas dalam relasi, namun gelisah dalam karier, dan hal ini justru membantu mengungkap prioritas terdalamnya.

Rasa cukup juga tidak berarti selalu bahagia.

Seseorang tetap bisa merasa sedih, kecewa, atau frustrasi, tanpa kehilangan perasaan utuh sebagai manusia.

Melepaskan Keterikatan pada Tujuan

Pakar menekankan pentingnya membedakan antara meninggalkan tujuan dan melepaskan keterikatan pada tujuan.

Tujuan yang tidak realistis atau sudah kehilangan makna dapat dilepaskan sepenuhnya.

Sementara tujuan yang masih penting dapat tetap dikejar, namun tanpa menjadikannya tolok ukur harga diri.

Ketika keberhasilan atau kegagalan sebuah tujuan menentukan nilai diri seseorang, di situlah masalah bermula.

Melepas keterikatan berarti menerima kemungkinan gagal tanpa kehilangan rasa utuh sebagai individu.

Latihan Sederhana untuk Menumbuhkan Rasa Cukup

Menumbuhkan rasa cukup bukan proses instan.

Beberapa langkah sederhana yang disarankan antara lain melatih rasa syukur atas hal-hal kecil sehari-hari, menerima seluruh emosi tanpa penyangkalan, serta secara jujur mengevaluasi tujuan hidup yang dijalani.

Dengan cara ini, seseorang dapat menciptakan ruang mental yang lebih lapang, bukan untuk berhenti bertumbuh, melainkan untuk hidup dengan lebih sadar dan seimbang.

Di tengah tekanan untuk selalu “menjadi lebih”, gagasan untuk berhenti sejenak, melepaskan tujuan tertentu, dan berdamai dengan keadaan kini justru dinilai sebagai salah satu jalan paling jarang ditempuh menuju ketenangan dan kebahagiaan yang berkelanjutan.

(apr)

Related News
Recent News
image
Sex and Relationship Overthinking Jadi Faktor Failure to Launch pada Anak Dewasa? Kenali Fenomena Kesulitan Mandiri
by April2026-01-31 13:04:04

Overthinking jadi penyebab baru failure to launch, membuat anak dewasa takut melangkah jadi mandek.

image
Sex and Relationship Sering Lupa? Ini Bedanya Kelupaan Wajar dan Tanda Penurunan Kognitif
by April2026-01-30 18:12:08

Lupa sesekali itu wajar, tapi kapan kelupaan jadi tanda penurunan kognitif? Ini penjelasannya.