Takut Salah Terus? Bisa Jadi Ini Tanda Perfeksionisme Diam-Diam
Takut Salah Sering Berakar dari Takut Tidak Diterima
ILUSTRASI - Takut salah dan sulit memaafkan diri? Psikolog sebut ini tanda perfeksionisme diam-diam (Foto: Canva)
AVNMEDIA.ID - Merasa cemas berlebihan saat melakukan kesalahan kecil? Sulit memaafkan diri sendiri ketika hasil tak sesuai harapan?
Menurut psikolog, kondisi ini bisa menjadi tanda perfeksionisme diam-diam, pola pikir yang kerap tak disadari, namun berdampak besar pada kesehatan mental.
Bagi sebagian orang, kesalahan bukan sekadar bagian dari proses belajar.
Ia berubah menjadi ancaman terhadap harga diri, seolah satu kegagalan cukup untuk mendefinisikan siapa diri mereka sepenuhnya.
Perfeksionisme Tak Selalu Terlihat, Tapi Terasa
Perfeksionisme sering disalahartikan sebagai sifat positif karena identik dengan standar tinggi.
Namun, psikolog menilai perfeksionisme justru berbahaya ketika dibarengi rasa takut berbuat salah.
Dalam kondisi ini, seseorang hidup dengan tuntutan internal yang kaku: harus benar, harus berhasil, tidak boleh gagal.
Kesalahan kecil pun terasa seperti bukti bahwa diri “tidak cukup baik”.
Saat Kesalahan Dianggap Cermin Nilai Diri
Perfeksionisme membuat seseorang memaknai kesalahan secara berlebihan.
Gagal ujian bisa diartikan sebagai tidak pintar.
Performa buruk sekali bisa dianggap sebagai tanda tidak berbakat selamanya.
Pola pikir ini dikenal sebagai berpikir hitam-putih, di mana seseorang merasa hanya ada dua kategori: sempurna atau gagal total.
Padahal, kenyataan hidup jauh lebih kompleks.
Takut Salah Sering Berakar dari Takut Tidak Diterima
Di balik perfeksionisme, sering tersembunyi ketakutan yang lebih dalam: takut tidak disukai, tidak dihargai, atau tidak dicintai.
Banyak orang tanpa sadar mengaitkan kebahagiaan dengan pencapaian dan pengakuan.
Ketika standar itu tak tercapai, yang muncul bukan sekadar kecewa, melainkan rasa kosong dan kesepian.
Kesalahan lalu menjadi pengingat pahit bahwa diri belum memenuhi ekspektasi, baik dari diri sendiri maupun orang lain.
Kesalahan Bukan Identitas
Psikolog menegaskan bahwa kesalahan tidak pernah mendefinisikan siapa seseorang.
Kesalahan adalah peristiwa, bukan identitas. Namun, perfeksionisme membuat batas ini kabur.
Akibatnya, seseorang lebih sibuk menghukum diri sendiri daripada belajar dari pengalaman.
Rasa bersalah berlarut-larut justru menghambat pemulihan dan pertumbuhan.
Respons Kita Lebih Penting daripada Kesalahannya
Alih-alih fokus pada seberapa fatal kesalahan yang dibuat, psikolog menekankan pentingnya cara kita merespons kesalahan tersebut.
Respons yang penuh belas kasih pada diri sendiri terbukti lebih membantu dibanding kritik internal yang keras.
Mengganti kalimat batin dari “aku gagal” menjadi “aku sedang belajar” bisa menjadi langkah kecil dengan dampak besar bagi kesehatan mental.
Belajar Lebih Lembut pada Diri Sendiri
Mengurangi perfeksionisme bukan berarti menurunkan standar hidup.
Ini tentang mengubah cara memperlakukan diri sendiri saat standar itu tak tercapai.
Psikolog menyarankan untuk memberi ruang pada ketidaksempurnaan dan menerima bahwa salah adalah bagian tak terpisahkan dari proses bertumbuh.
Standar boleh tinggi, tetapi empati pada diri sendiri tetap diperlukan.
Bukan Tentang Sempurna, Tapi Bertahan dan Bertumbuh
Dalam hidup yang penuh tekanan dan ekspektasi, kesalahan hampir tak terhindarkan.
Namun, yang paling menentukan bukan seberapa jarang kita salah, melainkan seberapa sehat kita menyikapinya.
Takut salah terus-menerus bisa menjadi sinyal bahwa perfeksionisme mulai mengambil alih.
Mengenalinya sejak dini adalah langkah awal untuk hidup yang lebih tenang, realistis, dan manusiawi.
(apr)



