Lingkup Psikologi

Tak Ada Orang Tua Sempurna, Pakar Tekankan Pentingnya Belajar dari Kesalahan dalam Pola Asuh

Cara Sehat Merespons Kesalahan dalam Pengasuhan

ILUSTRASI - Pakar sebut tak ada orang tua sempurna, kesalahan justru penting untuk membangun pola asuh sehat (Foto: Canva)

AVNMEDIA.ID - Konsep orang tua sempurna dinilai sebagai mitos yang justru membebani banyak keluarga.

Pakar pengasuhan menegaskan bahwa kesalahan dalam mendidik anak bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian alami dari proses membangun hubungan antara orang tua dan anak.

Pengasuhan bukan keterampilan yang bisa dikuasai secara instan, melainkan relasi yang berkembang seiring waktu, dipengaruhi stres, emosi, dan dinamika kehidupan sehari-hari.

Dalam praktiknya, orang tua kerap dihadapkan pada rasa ragu, rasa bersalah, hingga tekanan untuk selalu melakukan segalanya dengan benar.

Perfeksionisme dalam Pengasuhan Dinilai Merugikan

Banyak orang tua kelelahan secara emosional karena berusaha memenuhi standar pengasuhan yang dianggap ideal.

Perfeksionisme ini muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kecemasan saat anak tidak mencapai tahap perkembangan tertentu, rasa gagal ketika anak sulit makan, hingga rasa bersalah saat anak menghadapi masalah kesehatan atau emosi yang sebenarnya di luar kendali orang tua.

Pakar menilai, pola pikir tersebut justru menciptakan ekspektasi yang tidak realistis dan mendorong kritik diri yang berlebihan.

Akibatnya, ruang untuk belajar, beradaptasi, dan bertumbuh menjadi semakin sempit.

Kesalahan kerap dipersepsikan sebagai kegagalan total, padahal dalam pengasuhan, kesalahan merupakan hal yang tak terpisahkan dari proses belajar menjadi orang tua.

Kesalahan Justru Jadi Sarana Belajar bagi Anak

Dalam perspektif pengasuhan modern, kesalahan dipandang sebagai peluang untuk mengajarkan nilai-nilai penting kepada anak, seperti tanggung jawab, empati, dan cara memperbaiki hubungan.

Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari bagaimana orang tua merespons kesalahan mereka sendiri.

Meminta maaf kepada anak saat orang tua melakukan kesalahan dinilai sebagai langkah penting.

Tindakan ini bukan melemahkan otoritas, melainkan menunjukkan keteladanan dalam bertanggung jawab dan mengelola emosi secara sehat.

Sebaliknya, permintaan maaf yang tidak tulus atau menyalahkan anak justru dapat merusak kepercayaan dan hubungan emosional.

Cara Sehat Merespons Kesalahan dalam Pengasuhan

Pakar menyarankan pendekatan sederhana ketika orang tua melakukan kesalahan.

Pertama, mengakui kesalahan tanpa mencari pembenaran.

Kedua, menyampaikan permintaan maaf dengan empati dan tulus.

Ketiga, menjelaskan upaya untuk memperbaiki sikap di masa depan tanpa membuat janji berlebihan.

Dalam konteks hubungan orang tua dan anak, pendekatan ini dapat diperkuat dengan membuka ruang dialog.

Orang tua dianjurkan mendengarkan perasaan anak dan menghargai respons mereka, termasuk ketika anak memilih untuk diam atau menjaga jarak sementara.

Pendekatan ini dinilai mampu membangun rasa aman emosional dan mengajarkan anak bahwa hubungan yang sehat dapat diperbaiki setelah konflik.

Permintaan Maaf Paksa Dinilai Tidak Efektif

Selain kesalahan orang tua, anak juga akan sering melakukan kekeliruan.

Namun, memaksa anak untuk meminta maaf tanpa pemahaman dinilai kurang efektif.

Permintaan maaf yang dipaksakan cenderung mengajarkan kepatuhan semu, bukan empati.

Anak-anak, terutama usia dini, masih belajar memahami dampak perilaku mereka terhadap orang lain.

Oleh karena itu, orang tua dianjurkan membantu anak merefleksikan situasi secara tenang, lalu menawarkan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, baik melalui kata-kata maupun tindakan.

Bentuk perbaikan tidak selalu harus berupa ucapan maaf, tetapi bisa diwujudkan dengan tindakan nyata seperti membantu membereskan, mengganti barang yang rusak, atau mengajak kembali teman yang tersisih.

Pengasuhan Bukan Soal Kesempurnaan

Pakar menegaskan bahwa pengasuhan tidak dituntut untuk sempurna, melainkan dijalani dengan kejujuran, kesadaran, dan kerendahan hati.

Kesalahan bukan bukti kegagalan orang tua, melainkan momen penting untuk mengajarkan ketangguhan dan keterhubungan emosional.

Anak dinilai lebih banyak belajar dari cara orang tua memperbaiki kesalahan dibandingkan dari upaya tampil sempurna tanpa cela.

Dengan merangkul ketidaksempurnaan, orang tua justru membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih empatik dan resilien.

(apr)

Related News
Recent News
image
Sex and Relationship Overthinking Jadi Faktor Failure to Launch pada Anak Dewasa? Kenali Fenomena Kesulitan Mandiri
by April2026-01-31 13:04:04

Overthinking jadi penyebab baru failure to launch, membuat anak dewasa takut melangkah jadi mandek.

image
Sex and Relationship Sering Lupa? Ini Bedanya Kelupaan Wajar dan Tanda Penurunan Kognitif
by April2026-01-30 18:12:08

Lupa sesekali itu wajar, tapi kapan kelupaan jadi tanda penurunan kognitif? Ini penjelasannya.