Lingkup Psikologi

Saat Identitas Peran Justru Bikin Lelah, Kenali Apa Itu Psychological Flexibility?

ILUSTRASI - Siapa Diri Kita? Apakah Identitas Peran Bikin Terbebani? Kenali Apa Itu Psychological Flexibility (Foto: Canva)

AVNMEDIA.ID - Dalam kehidupan dewasa, banyak orang menjalani berbagai peran sekaligus: sebagai anak, pasangan, orang tua, profesional, hingga penopang keluarga.

Kita sibuk, produktif, dan terlihat “berfungsi dengan baik”.

Namun di balik semua itu, muncul satu pertanyaan mendasar yang sering terpendam: siapa diri kita sebenarnya, di luar semua label tersebut?

Pertanyaan ini kerap muncul ketika peran yang selama ini melekat mulai terasa berat, kehilangan makna emosional, dan berubah dari penopang menjadi tuntutan.

Di sinilah konsep psychological flexibility menjadi relevan untuk dipahami.

Ketika Identitas Berubah Menjadi Beban

Tanpa disadari, banyak orang mendefinisikan dirinya lewat label: “aku yang kuat”, “aku yang bertanggung jawab”, “aku yang selalu bisa diandalkan”.

Label-label ini memang pernah membantu kita bertahan dan beradaptasi.

Namun seiring waktu, identitas yang terlalu kaku justru bisa menimbulkan kelelahan batin.

Saat nilai diri sepenuhnya bergantung pada peran tertentu, setiap ancaman terhadap peran itu akan terasa seperti ancaman terhadap diri sendiri.

Kondisi ini membuat seseorang sulit menerima perubahan, kegagalan, bahkan keraguan, karena semuanya dianggap merusak identitas yang telah dibangun.

Mengenal Psychological Flexibility dalam Psikologi

Dalam psikologi, psychological flexibility merujuk pada kemampuan seseorang untuk tetap hadir pada momen saat ini, beradaptasi dengan perubahan, dan bertindak sesuai nilai hidup tanpa terikat secara kaku pada pikiran, peran, atau label identitas tertentu.

Konsep ini menekankan bahwa manusia lebih luas daripada satu peran atau definisi diri.

Kita bukan semata-mata pekerjaan kita, status sosial kita, atau ekspektasi orang lain terhadap diri kita.

Dengan fleksibilitas psikologis, identitas tidak dipertahankan mati-matian, melainkan dipegang dengan lebih ringan.

Hidup Tanpa Terjebak Satu Identitas

Ketika seseorang berhenti terlalu melekat pada satu label, ruang batin menjadi lebih lapang.

Ia tidak lagi merasa harus selalu “menjadi versi tertentu” demi memenuhi harapan lingkungan.

Hal ini memungkinkan individu untuk merespons situasi dengan lebih jujur dan sadar, bukan sekadar bereaksi berdasarkan kebiasaan atau tuntutan sosial.

Dalam kondisi ini, seseorang lebih mampu menerima rasa lelah, ragu, atau takut tanpa langsung menilai dirinya gagal.

Perubahan tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan bagian alami dari proses bertumbuh.

Mengapa Psychological Flexibility Penting untuk Kesehatan Mental

Psychological flexibility berperan penting dalam menjaga kesehatan mental karena membantu seseorang menghadapi stres, ketidakpastian, dan tekanan hidup dengan lebih adaptif.

Individu yang fleksibel secara psikologis cenderung tidak mengukur nilai dirinya hanya dari pencapaian atau peran tertentu.

Alih-alih mempertahankan identitas lama yang mungkin sudah tidak relevan, seseorang dengan fleksibilitas psikologis memberi dirinya izin untuk berkembang, berubah arah, dan mengeksplorasi makna hidup yang lebih luas.

Menemukan Diri Tanpa Harus Terikat Label

Mempertanyakan “siapa diri kita” bukanlah tanda kehilangan arah, melainkan tanda kesadaran yang semakin matang.

Ketika label mulai terasa membebani, itu bisa menjadi sinyal bahwa diri kita sedang membutuhkan ruang untuk bernapas dan bertumbuh.

Psychological flexibility menawarkan perspektif bahwa diri kita bukanlah label yang melekat, melainkan ruang tempat pengalaman hidup terjadi.

Dengan memahami konsep ini, seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih bebas, hadir sepenuhnya, dan tidak lagi terjebak dalam tuntutan untuk selalu menjadi “seseorang” versi orang lain.

(apr)

Related News
Recent News
image
Sex and Relationship Overthinking Jadi Faktor Failure to Launch pada Anak Dewasa? Kenali Fenomena Kesulitan Mandiri
by April2026-01-31 13:04:04

Overthinking jadi penyebab baru failure to launch, membuat anak dewasa takut melangkah jadi mandek.

image
Sex and Relationship Sering Lupa? Ini Bedanya Kelupaan Wajar dan Tanda Penurunan Kognitif
by April2026-01-30 18:12:08

Lupa sesekali itu wajar, tapi kapan kelupaan jadi tanda penurunan kognitif? Ini penjelasannya.