Perfect Crown Tuai Kritik di Korea Selatan soal “Cheonse” Alih-alih “Manse”
Dengan semua konflik yang terjadi, banyak penonton mulai berspekulasi bahwa ending Perfect Crown tidak akan berjalan mulus/ X @ashdresaura
AVNMEDIA.ID - Drama Korea “Perfect Crown” kembali menjadi perbincangan panas di Korea Selatan menjelang episode finalnya.
Kali ini, sorotan publik bukan lagi soal chemistry IU dan Byeon Woo-seok, melainkan kontroversi penggunaan istilah kerajaan dalam adegan penobatan raja.
Drama produksi MBC tersebut menuai kritik setelah menampilkan teriakan “Cheonse” dalam upacara penobatan Grand Prince Ian, karakter yang diperankan Byeon Woo-seok.
Banyak penonton menilai istilah tersebut tidak tepat digunakan dalam konteks kerajaan Korea modern versi drama.
Kontroversi ini langsung viral di forum online Korea dan media sosial, terutama setelah Episode 11 tayang pada Jumat lalu.
Adegan Penobatan di Perfect Crown Diperdebatkan
Dalam episode terbaru, Seong Hee-joo yang diperankan IU rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Grand Prince Ian sebelum akhirnya ia resmi naik takhta.
Namun alih-alih fokus pada momen emosional tersebut, publik justru ramai membahas detail seremoni kerajaan yang dianggap bermasalah.
Salah satu kritik terbesar datang dari penggunaan kata “Cheonse” oleh pejabat kerajaan saat upacara penobatan berlangsung.
Sebagian penonton Korea menyebut istilah itu secara historis digunakan oleh negara bawahan untuk menyapa kaisar, bukan untuk raja dalam sistem monarki konstitusional seperti yang digambarkan di “Perfect Crown”.
Karena itu, banyak yang menilai penggunaan “Cheonse” terasa janggal dan tidak sesuai konteks. Mereka menganggap kata “Manse” lebih tepat digunakan dalam adegan tersebut.
Tak Cuma “Cheonse”, Mahkota Raja Juga Dikritik
Kontroversi drama ini ternyata tidak berhenti di penggunaan istilah kerajaan saja.
Beberapa penonton juga mempermasalahkan desain mahkota raja yang muncul di episode terbaru.
Menurut kritik yang beredar, mahkota tersebut hanya memiliki sembilan untaian manik-manik, padahal secara tradisional penguasa tertinggi biasanya menggunakan desain dengan 12 untaian.
Selain itu, ada pula adegan yang memperlihatkan ratu janda berlutut di depan Grand Prince Ian sambil meminta maaf.
Adegan tersebut dianggap tidak sesuai dengan hierarki kerajaan Korea dalam sejarah.
Meski “Perfect Crown” mengambil latar dunia fiksi alternate history dengan konsep monarki konstitusional modern, sebagian penonton tetap menuntut konsistensi budaya dan simbol kerajaan.
Sejarawan Korea Ikut Soroti Perfect Crown
Ini bukan pertama kalinya “Perfect Crown” diterpa isu distorsi sejarah.
Sejak awal penayangan, beberapa sejarawan Korea sudah mengkritik sejumlah elemen dalam drama, termasuk sistem wali kerajaan hingga ritual ulang tahun raja yang dianggap bertentangan dengan budaya Dinasti Joseon.
Kontroversi terbaru bahkan disebut membuat sebagian penonton meminta klarifikasi resmi dari pihak MBC.
Ada juga yang mengaku telah mengirimkan keluhan ke regulator penyiaran Korea Selatan.
Rating Perfect Crown Tetap Tinggi Meski Kontroversial
Menariknya, kritik besar yang menghantam drama ini tidak terlalu memengaruhi popularitasnya.
“Perfect Crown” justru terus mencatat kenaikan rating sejak episode perdana. Drama ini debut dengan rating 7,8 persen, lalu naik menjadi 11,1 persen di Episode 4 dan menembus 13,3 persen pada Episode 10.
Tak hanya sukses di Korea Selatan, drama ini juga disebut masih populer di Disney+ di berbagai wilayah seperti Amerika Utara, Eropa, Amerika Latin, hingga Asia.
Dengan satu episode tersisa menuju ending, kontroversi “Perfect Crown” tampaknya masih akan terus menjadi bahan perdebatan di kalangan penonton Kdrama. (jas)
- Tiga Hal yang Terjadi di Ending Perfect Crown: Sistem Monarki Terhapus, Kedok Jeong-woo Terbongkar hingga Kissing Scene di Akhir
- Penjelasan Ending Perfect Crown: Terungkap Nasib Pengkhianatan Jeong-woo! Yi-an dan Hui-ju Tak Lagi Terikat Kerajaan?
- Ada Pengkhianatan di Ending Perfect Crown Episode 11–12? Istana Jadi Arena Perebutan Kekuasaan





