Motivasi Sering Turun? Menghubungkan Tujuan dengan Nilai Hidup Dinilai Jadi Kunci Konsistensi
Perubahan Adalah Proses, Bukan Hasil Instan
ILUSTRASI - Motivasi turun bukan kegagalan. Ahli sarankan hubungkan tujuan dan nilai hidup agar tetap konsisten (Foto: Canva)
AVNMEDIA.ID - Motivasi yang menurun di tengah upaya mencapai tujuan merupakan tantangan umum yang dialami banyak orang, terutama di awal tahun ketika resolusi mulai diuji oleh rutinitas dan tekanan sehari-hari.
Para ahli menilai, penurunan motivasi bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian alami dari proses perubahan.
Psikolog menyebut bahwa salah satu penyebab utama seseorang tidak konsisten adalah tujuan yang tidak terhubung dengan nilai hidup yang bermakna secara personal.
Ketika tujuan hanya berfokus pada hasil akhir atau tuntutan eksternal, motivasi cenderung cepat memudar.
“Motivasi itu fluktuatif. Ia sangat dipengaruhi emosi dan kondisi situasional. Yang membuat seseorang bertahan justru nilai hidup yang stabil,” ujar seorang praktisi kesehatan mental.
Tujuan Tanpa Nilai Mudah Ditinggalkan
Banyak resolusi dibuat dalam bentuk target angka atau pencapaian tertentu, seperti menurunkan berat badan, meningkatkan produktivitas, atau mencapai standar kesuksesan tertentu.
Namun, tanpa pemahaman mendalam mengenai alasan di balik tujuan tersebut, komitmen sering kali melemah saat menghadapi hambatan.
Tujuan yang didasari rasa “harus” atau tekanan sosial dinilai lebih rentan gagal dibanding tujuan yang berangkat dari kebutuhan dan nilai personal, seperti kesehatan, kualitas hidup, atau hubungan yang lebih bermakna.
Nilai Hidup Dinilai Lebih Kuat daripada Motivasi
Dalam pendekatan psikologis, nilai hidup berfungsi sebagai kompas jangka panjang.
Ketika motivasi menurun, nilai membantu individu tetap bergerak meskipun tanpa dorongan emosi yang kuat.
Dengan mengaitkan tujuan pada nilai, seseorang tidak lagi bertanya apakah ia sedang termotivasi, melainkan apakah langkah yang diambil masih sejalan dengan prinsip hidup yang diyakini.
Pendekatan ini juga membantu individu lebih toleran terhadap emosi negatif, seperti bosan, lelah, atau frustrasi, yang kerap muncul dalam proses perubahan jangka panjang.
Konsistensi Tidak Harus Sempurna
Para ahli juga menekankan bahwa konsistensi tidak selalu berarti menjalankan tujuan secara kaku.
Penyesuaian langkah, pengurangan target, atau perubahan strategi justru dianggap sebagai bagian dari proses adaptasi yang sehat.
“Fleksibilitas bukan kegagalan. Justru itu menunjukkan kesadaran diri dan kemampuan belajar,” jelasnya.
Dengan fokus pada nilai inti, seseorang tetap dapat merasa konsisten meskipun harus menyesuaikan ritme dan cara.
Perubahan Adalah Proses, Bukan Hasil Instan
Motivasi yang naik dan turun dinilai sebagai hal yang wajar.
Kesuksesan, menurut para ahli, bukanlah hasil dari semangat sesaat, melainkan akumulasi kebiasaan kecil yang dilakukan secara berulang dan sadar.
Menghubungkan tujuan dengan nilai hidup diyakini dapat membantu individu membangun ketahanan mental, menjaga konsistensi, dan menjalani proses perubahan dengan lebih realistis dan berkelanjutan.
(apr)



