Joko Anwar Tak Beri Happy Ending di Ghost in the Cell: yang Paling Menakutkan bukan Makhluk Gaib, tapi Sistemnya
Joko Anwar berikan nuansa horor yang baru di Ghost in the Cell
FILM - Joko Anwar Tak Berikan Happy Ending di Ghost in the Cell
AVNMEDIA.ID - Sutradara ternama Indonesia, Joko Anwar kembali memeriahkan dunia film horor Indonesia, Ghost in the Cell bukan sekadar film horor tentang penjara yang dihantui.
Di tangan Joko Anwar, premis sederhana itu berkembang jadi sesuatu yang jauh lebih gelap serta ending yang plot twist dan satir yang mengkritik.
Film ini berlatar di Lapas Labuhan Angsana, penjara fiktif yang digambarkan sebagai salah satu yang paling brutal di Indonesia.
Para napi mati satu per satu dengan cara yang tak lazim yaitu tubuh mereka disusun seperti instalasi seni artistik, tapi mengerikan.
Sosok "hantu" di baliknya bukan sekadar pembunuh, melainkan entitas yang memilih korban berdasarkan aura.
Dalam film ditunjukkan siapa yang memancarkan energi merah menyala berarti pertanda bahwa orang tersebut dilingkupi amarah dan frustrasi, maka dialah yang diincar berikutnya.
Hantu yang Lahir dari Keburukan Sifat Manusia
- Penjelasan Karakter My Royal Nemesis: Siapa Geum Jeong Ae? Dukun Sekaligus Mentor Seo Ri di Netflix (Part 2)
- Penjelasan Karakter My Royal Nemesis: Bedah Keluarga Chaebol Cha Se Gye di Drama Netflix (Part I)
- Yang Terjadi di Episode 6 Sold Out On You: Ye-jin Mencoba Healing, Desa Deokpung Ternyata Tenang dan Nyaman
Entitas yang menjadi hantu dalam film Ghost in Cell ini bukanlah makhluk dari dimensi lain yang datang tanpa sebab.
Ia adalah manifestasi dari akumulasi energi negatif yang sudah terlalu lama dibiarkan mengendap di dalam tembok penjara itu yaitu kekerasan, korupsi, penindasan, dan keputusasaan yang selama bertahun-tahun tidak pernah diadili.
Hantu itu, dengan kata lain, adalah produk dari sistem itu sendiri.
Joko Anwar membangun logika ini perlahan.
Setiap kematian bukan terjadi secara acak namun ia seperti "tagihan" yang datang menagih dosa-dosa yang tak pernah dibayar.
Para sipir korup, napi bengis, hingga aparat yang menyalahgunakan kekuasaan, semua punya aura yang membara.
Dan ketika teror itu akhirnya bisa diredakan lewat seni, doa, atau bahkan joget dadakan yang dilakukan oleh para napi di lorong penjara.
Adegan ini jelas memiliki pesan bahwa satu-satunya penangkal energi jahat adalah rasa kemanusiaan yang masih tersisa di diri manusia.
Hantu terbesar dalam film ini bukan yang gentayangan di lorong penjara, melainkan sistem yang menciptakan lorong itu sendiri.
Ending yang Sengaja Tidak Memuaskan
Anggoro yang menjadi tokoh utama dalam film tersebut, diperankan oleh Abimana Aryasatya, berhasil selamat.
Tapi bagi penonton ini bukan kemenangan yang terasa lega.
Bahkan saat film telah usai ditayangkan dan kredit mulai bergulir, penonton disodorkan kenyataan pahit bahwa sistem yang yang rusak itu tetap berdiri hingga struktur kekuasaan kuat yang selama ini melindungi para penjahat juga belum runtuh sedikitpun dalam film tersebut.
Joko Anwar sendiri memilih untuk tidak memberikan happy ending, karena ia tidak ingin memberi penonton pelarian yang nyaman.
Film ini ingin membuat para penontonya keluar dari studio bioskop dengan perasaan tidak tenang karena ghost (sistem gagal) dalam film tersebut masih kerap nyata terjadi diluar sana.
Itulah kenapa Ghost in the Cell terasa seperti lebih dari sekadar film horor.
Ia adalah kritik masyarakat yang dikemas dengan darah, tawa, dan komedi dalam layar lebar. (jay)





