Banjir Air Mata di Februari, Ending Even If This Love Disappears Tonight dan Pavane Bikin Penonton Nyesek!
Ending Film Even If This Love Disappears Tonight dan Pavane
FILM - Adegan emosional dari film Even If This Love Disappears Tonight dan Pavane/ Foto: X (@netlixkr)
AVNMEDIA.ID - Dua film Netflix Korea yang tayang bulan Februari, Even If This Love Disappears Tonight dan Pavane, sukses bikin penonton ikut larut secara emosional.
Meski sama-sama ditutup dengan nuansa sendu, cara keduanya menyajikan akhir cerita terasa berbeda.
Perpisahan Sunyi di Even If This Love Disappears Tonight
Sejak awal, Even If This Love Disappears Tonight memang sudah terasa rapuh.
Hubungan dua tokohnya tidak pernah benar-benar berdiri di tanah yang kokoh.
Ada gangguan ingatan yang terus menghantui, membuat setiap momen manis terasa seperti pinjaman waktu.
Tokoh pria menyadari bahwa cinta saja tidak cukup untuk melawan kenyataan yang ada
Di situlah keputusan paling menyakitkan diambil: ia memilih pergi dari hidup perempuan yang ia cintai.
Ending film ini tidak dibuat heboh.
Tidak ada tangisan berlebihan atau adegan dramatis yang dipaksakan.
Semuanya berjalan pelan, hampir hening. Tapi justru karena itu, rasanya lebih menghantam.
Penonton tidak diberi ruang untuk berharap pada keajaiban.
Yang tertinggal setelah film selesai adalah rasa kosong.
Seperti ada sesuatu yang belum selesai, tapi memang tidak akan pernah bisa diselesaikan.
Akhir Realistis dan Reflektif di Pavane
Sementara itu, Pavane menawarkan pendekatan berbeda.
Diadaptasi dari novel karya Park Min Gyu dan digarap oleh sutradara Lee Jong Pil, film ini lebih banyak bicara soal luka batin dan standar sosial.
Endingnya tidak memberi perubahan drastis pada hidup para karakternya.
Mereka tidak tiba-tiba jadi sukses atau diterima semua orang.
Dunia tetap berjalan seperti biasa.
Namun ada satu hal yang berubah: cara mereka memandang diri sendiri.
Alih-alih terus merasa kurang, mereka mulai menerima siapa diri mereka sebenarnya.
Prosesnya pelan, tanpa ledakan emosi besar, tapi terasa jujur.
Dua Ending Sendu, Dua Rasa Kehilangan yang Berbeda
Kalau di Even If This Love Disappears Tonight, kematian terasa seperti klimaks dari cinta yang sudah rapuh sejak awal.
Sedihnya datang karena kehilangan orang yang dicintai sekaligus kehilangan kenangan tentangnya.
Rasanya kosong, seperti ada cerita yang dipotong paksa.
Sementara di Pavane, kematian memang sama-sama menyakitkan, tapi nuansanya lebih sunyi dan realistis.
Tidak dibungkus sebagai tragedi romantis besar.
Ia pergi, dan dunia tetap berjalan. Justru setelah itu, yang disorot adalah bagaimana orang-orang yang ditinggalkan memproses kehilangan tersebut.
Bukan soal patah hati, melainkan soal berdamai.
Dua ending ini sama-sama tidak “bahagia” dalam arti umum.
Tapi justru karena itu, keduanya terasa dekat dengan kenyataan dan mungkin itulah yang membuatnya sulit dilupakan.
Kalian sudah nonton dua film ini? Mana yang paling bikin nyesek? (sal)





