Di Balik Kisah Romansa di Film Pavane, Ada Kritik Tajam soal Standar Kecantikan Korea
Film Pavane: Kritik tajam soal standar kecantikan Korea Selatan
Karakter Mijeong dalam Pavane, penampilan perempuan dengan tekanan standar kecantikan dan rasa tak pernah cukup/ Foto IG: @netflixkr
AVNMEDIA.ID - Film yang disutradarai Lee Jong Pil dan diadaptasi dari novel Pavane for a Dead Princess karya Park Min Gyu ini resmi tayang di Netflix pada 20 Februari 2026.
Pavane bukan hanya drama tentang kesepian pekerja, di balik alurnya yang tenang film ini menyimpan kritik sosial yang tajam tentang standar kecantikan di Korea Selatan dan bagaimana tekanan tersebut membentuk rasa harga diri seseorang.
Melalui karakter Mijeong (diperankan Go Ah Sung), Pavane memperlihatkan bagaimana standar kecantikan bisa menjadi beban psikologis yang sunyi, tetapi menghancurkan.
Kritik terhadap Standar Kecantikan Korea
Industri hiburan Korea dikenal dengan standar visual yang tinggi.
Kulit mulus, wajah kecil, tubuh proporsional, dan fitur simetris sering kali menjadi tolok ukur “cantik”.
Film Pavane menghadirkan sisi lain dari realitas tersebut.
Alih-alih menampilkan karakter perempuan yang sesuai standar mainstream, Mijeong digambarkan sebagai sosok yang merasa dirinya tidak memenuhi ekspektasi sosial.
Ia bukan tidak cantik, tetapi ia merasa tidak cukup.
Di sinilah kritik film ini terasa kuat.
Basement sebagai Simbol Marginalisasi Visual
Setting basement department store bukan sekadar latar tempat kerja, ia menjadi metafora sosial.




