Bagaimana Cara Kita Menilai Harga Terasa Mahal atau Murah?
Persepsi Harga Dibentuk oleh Patokan Bawah Sadar
ILUSTRASI - Kenapa harga terasa mahal atau murah? Persepsi dipengaruhi emosi, konteks, dan patokan bawah sadar (Foto: Canva)
AVNMEDIA.ID - Pernahkah kamu bertanya mengapa satu pembelian terasa “mahal”, sementara pengeluaran lain dengan nominal serupa terasa wajar, bahkan menyenangkan? Cara kita menilai harga ternyata jarang benar-benar rasional.
Banyak keputusan finansial dipengaruhi konteks, emosi, dan patokan bawah sadar yang terbentuk sejak lama.
Para ahli ekonomi perilaku menunjukkan bahwa persepsi “mahal” atau “murah” bukan sekadar soal angka, melainkan hasil perbandingan, cerita yang kita bangun sendiri, dan dorongan psikologis sesaat.
Persepsi Harga Dibentuk oleh Patokan Bawah Sadar
Setiap orang memiliki “jangkar” finansial, patokan bawah sadar yang digunakan untuk menilai nilai suatu barang atau jasa.
Jangkar ini terbentuk dari pengalaman hidup: kebiasaan keluarga, lingkungan sosial, hingga perbandingan penghasilan dan gaya hidup orang-orang di sekitar kita.
Akibatnya, harga yang sama bisa terasa mahal bagi satu orang, namun wajar bagi orang lain.
Penilaian ini terus bergeser tergantung situasi, urgensi, dan nilai yang kita pegang.
Perbandingan, Pencuri Kebahagiaan dalam Keputusan Finansial
Kita cenderung menilai harga dengan membandingkannya pada tolok ukur tersembunyi.
Inilah sebabnya perbandingan kerap menjadi “pencuri kebahagiaan”.
Saat membeli gawai terbaru atau tiket konser mahal, kita sering membenarkan biaya tersebut dengan cerita tentang produktivitas, pengalaman tak terlupakan, atau kelangkaan.
Dalam kondisi ini, emosi dan adrenalin mengalahkan logika.
Manfaat jangka panjang sering terabaikan, sementara dorongan kepuasan instan terasa lebih dominan.
Mengapa Hal Mahal Bisa Terasa Wajar?
Sesuatu yang dianggap mahal bisa terasa masuk akal jika dibandingkan dengan alternatif yang lebih buruk.
Misalnya, biaya konseling pernikahan kerap dipersepsikan mahal, hingga dibandingkan dengan ongkos perceraian yang jauh lebih besar, baik secara finansial maupun emosional.
Artinya, harga menjadi relatif tergantung pada pembanding yang kita gunakan.
Tanpa sadar, kita memilih pembanding yang mendukung keputusan kita.
Langganan Kecil, Biaya Besar
Salah satu contoh paling jelas dari bias penilaian harga adalah langganan bulanan.
Biaya kecil yang berulang sering luput dari perhatian karena beban psikologis untuk membatalkan terasa lebih berat daripada membiarkannya berjalan.
Ketika biaya-biaya kecil ini menumpuk, barulah kita menyadari bahwa penilaian “murah” tadi tidak sepenuhnya akurat.
Bertanya Ulang Sebelum Menyebut “Mahal”
Sebelum melabeli sesuatu sebagai mahal atau murah, ada baiknya bertanya pada diri sendiri:
- Apa konteksnya?
- Patokan apa yang saya gunakan?
- Apa biaya peluang dari keputusan ini?
- Manfaat emosional apa yang saya harapkan, dan apakah sebanding dengan dampaknya bagi diri sendiri, orang lain, atau lingkungan?
Pertanyaan-pertanyaan ini membantu kita melihat keputusan finansial dengan lebih jernih.
Kesadaran Tidak Selalu Membuat Kita Rasional
Menyadari bias tidak otomatis membuat kita selalu rasional.
Namun, dengan mengenali pola pembenaran diri, kita bisa lebih bijak dan menertawakan kecenderungan impulsif kita sendiri.
Pada akhirnya, memahami bagaimana kita menentukan sesuatu itu mahal atau murah membantu kita membedakan kebutuhan dan keinginan, serta membuat keputusan finansial yang lebih sadar dan seimbang.
(apr)



