Urutan Identitas Palsu di The Art of Sarah: Dari Mok Ga-hui hingga Kim Mi-jeong, Satu Perempuan dengan Lima Kehidupan
Jejak Identitas Palsu dalam The Art of Sarah
INDENTITAS - Dari Mok Ga-hui hingga Kim Mi-jeong, jejak lima nama tanpa identitas asli jelas/ Foto: Netflix
AVNMEDIA.ID - Serial misteri kriminal asal Korea Selatan The Art of Sarah (judul asli 레이디 두아 / Lady Doir) yang tayang di Netflix sejak (13/02/2026) menghadirkan karakter utama dengan sebuah misteri besar.
Siapa sebenarnya Sarah Kim?
Selama delapan episode penuh The Art of Sarah, penonton dibawa menyusuri kehidupan seorang perempuan yang terbentuk melalui serangkaian identitas palsu yang semuanya membangun narasi tentang kelas sosial, obsesi status, dan tipu muslihat yang rumit.
Kisahnya tidak bergerak lurus, melainkan dibangun dari potongan masa lalu yang saling menutupi.
Dari karyawan ritel biasa hingga sosok elit pemilik merek tas mewah, semuanya terhubung pada satu nama asli yang terus disembunyikan.
Berikut urutan identitas yang membentuk lima kehidupan dalam satu tubuh dalam drama The Art of Sarah.
Mok Ga-hui: Titik Nol yang Menghancurkan Segalanya
Semuanya bermula dari Mok Ga-hui, seorang karyawan ritel di brand tas mewah di ritel di Samwol Department Store.
Hidupnya berubah saat ia terlibat dalam insiden perampokan yang membuatnya harus menanggung kerugian hingga 50 juta Won.
Terhimpit utang dan tekanan rentenir, Mok Ga-hui mulai melakukan penjualan barang ilegal secara daring menggunakan identitas orang lain, termasuk nama Dewi Cheongdam.
Masalah tidak berhenti di sana.
Ia kembali terseret kasus penipuan jual beli online dengan kerugian mencapai 500 juta Won.
Dikejar tekanan finansial dan ancaman hukum, Mok Ga-hui kemudian merekayasa kematiannya dengan melompat dari jembatan.
Publik mengira ia tewas, padahal itu adalah langkah awal untuk lahir kembali dengan identitas baru.
Du A / Doir: Identitas yang Lahir dari Manipulasi dan Transaksi
Setelah Mok Ga-hui dinyatakan meninggal, ia muncul sebagai Du A.
Nama ini disebut terinspirasi dari anagram Doir.
Di fase ini, ia bekerja di tempat hiburan malam dan bertemu Hong Seong-shin, seorang rentenir kaya yang membutuhkan donor ginjal.
Du A menawarkan diri sebagai pendonor dengan syarat pernikahan kontrak selama satu tahun.
Dari kesepakatan itu, ia menerima 500 juta Won.
Identitas Du A menjadi batu loncatan penting karena memberinya akses ke gaya hidup kelas atas serta jejaring sosial yang sebelumnya tak pernah ia miliki.
Kim Eun-jae: Membangun Citra Baru yang Lebih Rapi
Untuk menghindari kecurigaan atas pernikahan kontraknya, Du A kembali mengganti nama menjadi Kim Eun-jae.
Dengan identitas ini, ia membangun citra perempuan berkelas dan berpendidikan tinggi, bahkan mengaku sebagai lulusan Oxford.
Ia mulai memasuki lingkaran elite dan membangun relasi bisnis, termasuk dengan Kang I-hwon.
Di fase Kim Eun-jae, rencana besar mulai disusun.
Ia merancang pendirian merek tas Boudoir yang diposisikan sebagai brand mewah dengan narasi eksklusif.
Citra elegan dan latar belakang akademik menjadi fondasi untuk memperkuat kepercayaan publik.
Sarah Kim: Puncak Ambisi dan Lahirnya Simbol
Identitas berikutnya adalah Sarah Kim, nama yang kemudian dikenal luas di kalangan atas.
Sebagai figur publik dan pemilik Boudoir, Sarah Kim tampil sebagai simbol kesuksesan dan selera tinggi.
Ia merekrut Woo Ya-eun sebagai karyawan serta memanfaatkan jaringan sosial untuk memperluas bisnis.
Namun konflik muncul ketika masa lalu Kim Eun-jae terhubung kembali dengan penyelidikan polisi atas kasus rentenir.
Pada titik ini terungkap bahwa Sarah Kim bukan identitas asli, melainkan konstruksi lanjutan dari kehidupan sebelumnya.
Kim Mi-jeong (Present): Pengakuan yang Mengubah Segalanya
Puncak cerita terjadi saat terjadi pertengkaran antara Sarah Kim dan Kim Mi-jeong yang berujung pada kematian dan ditemukannya jasad di selokan.
Dalam penyelidikan, Sarah Kim justru mengaku sebagai Kim Mi-jeong dan mengambil identitas tersebut secara resmi.
Dengan memakai nama Kim Mi-jeong, ia melindungi Boudoir dari dampak hukum sekaligus menghapus jejak identitas sebelumnya.
Polisi tidak dapat menemukan data asli Sarah Kim maupun Kim Mi-jeong karena keduanya tidak memiliki rekam administrasi yang jelas sejak kecil.
Kesimpulan
Di akhir cerita The Art of Sarah, satu fakta menjadi ironi terbesar tidak ada yang benar-benar tahu siapa nama aslinya.
Sejak awal, ia hidup tanpa dokumen resmi dan kabur dari rumah saat kecil. Semua nama yang ia gunakan hanyalah konstruksi.
The Art of Sarah akhirnya bukan sekadar kisah tentang penipuan.
The Art of Sarah adalah cerita tentang bagaimana sistem sosial dapat memaksa seseorang menciptakan dirinya berkali-kali sampai identitas bukan lagi soal nama, melainkan soal siapa yang mampu menguasai narasi. (naf)




