Review Dia Perempuan Sialan: 5 Hal yang Membuat Drama Horor Ini Berbeda
VIU ORIGINAL - Dia Perempuan Sialan/ HO to Avnmedia.id
Apakah ia datang untuk mencari kebenaran?
Atau justru kedatangannya berkaitan dengan sesuatu yang sudah direncanakan sejak lama?
Melalui Riska dan Bulan, drama ini membawa persoalan ketimpangan hubungan antara majikan dan pekerja ke dalam cerita horor.
Ketakutan akhirnya tidak hanya muncul dari sesuatu yang tidak terlihat.
Ia juga muncul dari orang yang memiliki kuasa dan merasa dapat melakukan apa saja kepada mereka yang berada di posisi lebih lemah.
3. Siapa Sebenarnya “Perempuan Sialan”?
Judul Dia Perempuan Sialan sendiri sudah menjadi teka-teki.
Siapa perempuan yang dimaksud?
Apakah Puan Sri Asyikin?
Apakah Riska?
Atau ada perempuan lain yang selama ini tidak terlihat sebagai pusat cerita?
Menariknya, serial ini tidak buru-buru memberikan jawabannya.
Karakter-karakter perempuan di dalam cerita memiliki sisi yang berbeda.
Ada yang memiliki kekuasaan.
Ada yang hidup dalam tekanan keluarga.
Ada pula yang menyimpan masa lalu dan tujuan yang belum diketahui.
Karena itu, sebutan “perempuan sialan” terasa seperti bagian dari misteri, bukan hanya judul.
Label tersebut juga membuka pertanyaan lain: mengapa seseorang begitu mudah disebut sebagai sumber masalah sebelum seluruh kebenaran diketahui?
Di sinilah Dia Perempuan Sialan berpotensi membuat penonton terus mencurigai setiap karakter.
Perempuan yang terlihat sebagai korban belum tentu sepenuhnya tidak berbahaya.
Sebaliknya, perempuan yang terlihat sebagai pelaku belum tentu menjadi sumber semua kejahatan.
4. Horornya Tidak Hanya Mengandalkan Hantu
Kalau yang dicari adalah drama dengan kemunculan hantu setiap beberapa menit, Dia Perempuan Sialan tampaknya menawarkan pendekatan berbeda.
Serial ini menggabungkan horor dengan psikologi karakter, rasa bersalah, kekerasan, rahasia keluarga, dan kepercayaan terhadap hal-hal mistis.
Setelah Puan Sri Asyikin meninggal secara tidak wajar, keluarganya langsung menganggap dirinya terkena kutukan.
Bahkan, seorang ustaz berada di sisinya ketika kondisinya memburuk, termasuk saat ia mengalami kejang dan mengeluarkan darah dari matanya.
Namun, cerita tidak langsung meminta penonton percaya bahwa semua itu pasti ulah makhluk gaib.
Justru keraguan tersebut menjadi bagian dari daya tariknya.
Bagaimana jika kutukan memang ada?
Bagaimana jika tidak?
Dan bagaimana jika seseorang memanfaatkan kepercayaan terhadap kutukan untuk menyembunyikan kejahatan yang sebenarnya dilakukan manusia?
Pertanyaan semacam ini membuat Dia Perempuan Sialan berada di wilayah horor psikologis, bukan sekadar horor dengan kejutan visual.





