Perekonomian Indonesia Tumbuh 5,12%, Tapi Ancaman “Vibecession” Mulai Bayangi
Pertumbuhan Ekonomi Melonjak di Kuartal II 2025

ILUSTRASI - EBC Financial Group mengingatkan fenomena “vibecession” — kondisi saat data ekonomi terlihat positif, tapi kepercayaan konsumen dan dunia usaha justru melemah/ Pexels
Meski ekonomi tumbuh, kepercayaan konsumen Indonesia turun ke 117,5 pada Mei 2025, level terendah sejak 2022.
Banyak perusahaan menunda ekspansi dan memilih strategi efisiensi biaya.
Di sektor ritel, penurunan konsumsi terasa jelas.
Pusat perbelanjaan memang ramai, namun lebih banyak “window shopping” ketimbang transaksi nyata.
Restoran di Jakarta bahkan melaporkan penurunan pelanggan hingga 50%, membuat pelaku usaha harus memberi diskon besar untuk bertahan.
Inflasi Terkendali, Stimulus Masih Ada Ruang
Inflasi tahunan Juli 2025 tercatat 2,37%, sementara inflasi inti berada di 2,32%, level terendah dalam tujuh bulan terakhir.
Kondisi ini memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter bila diperlukan.
APBN 2025 juga menjaga defisit fiskal di level 2,53% dari PDB, sehingga pemerintah masih memiliki ruang untuk menyalurkan stimulus jika momentum pertumbuhan melemah.
Namun, analis menilai reformasi struktural tetap diperlukan agar pertumbuhan lebih berkelanjutan.
Kebijakan Pemerintah dan Dampak ke Pasar
Pemerintah memperketat kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) minyak goreng hingga 175 ribu ton per bulan untuk menjaga harga tetap terjangkau.