Mengapa Bisa Diam-Diam Rindu Kekacauan yang Katanya Kita Benci? Ini 5 Cara Hadapi Situasinya
Belajar Merasa Aman Tanpa Rasa Mendesak
ILUSTRASI - Mengapa kita merindukan kekacauan? Psikolog jelaskan alasannya dan 5 cara nikmati ketenangan (Foto: Canva)
AVNMEDIA.ID - Banyak orang mengaku mendambakan hidup yang tenang, ritme yang lambat, dan hari-hari tanpa tuntutan.
Namun, ketika ketenangan itu benar-benar datang, tak sedikit yang justru merasa gelisah.
Tanpa disadari, sebagian orang malah merindukan kekacauan yang selama ini mereka keluhkan.
Fenomena ini kerap muncul dalam kehidupan modern yang dipenuhi kesibukan.
Saat tidak ada agenda mendesak, notifikasi, atau masalah yang harus diselesaikan, tubuh dan pikiran terasa “asing” dengan kondisi hening.
Alih-alih menikmati ketenangan, seseorang justru mencari hal untuk dilakukan, meski sebenarnya tidak perlu.
Mengapa Kekacauan Terasa Lebih Nyaman daripada Tenang?
Psikolog menjelaskan bahwa kondisi ini berkaitan dengan cara sistem saraf bekerja.
Dalam jangka panjang, tubuh terbiasa berada dalam mode siaga akibat tekanan, tanggung jawab, dan tuntutan sosial yang terus-menerus.
Kesibukan yang konstan membuat tubuh mengasosiasikan rasa “berguna” dengan rasa aman.
Akibatnya, ketika ritme hidup melambat, ketenangan justru terasa mencurigakan.
Diam dianggap sebagai tanda bahaya, bukan pemulihan.
Kekacauan menjadi nyaman karena ia familiar, dapat diprediksi, dan memberi ilusi makna, ada sesuatu yang harus dilakukan, diselesaikan, atau diperbaiki.
Kondisi ini juga diperkuat oleh pola intermittent reinforcement, di mana kesibukan sesekali memberi “hadiah” emosional, seperti pujian, rasa dibutuhkan, atau kepuasan sesaat.
Meski melelahkan, pola tersebut membuat seseorang sulit benar-benar melepaskan kekacauan.
Saat Kesibukan Menjadi Ukuran Nilai Diri
Bagi sebagian orang, terutama yang terbiasa menjadi andalan, pengasuh, atau perfeksionis, kesibukan perlahan berubah menjadi tolok ukur nilai diri.
Ketika tidak ada yang membutuhkan, muncul pertanyaan yang tidak nyaman: siapa saya tanpa peran ini?
Dalam kondisi seperti ini, istirahat bukan lagi terasa menyenangkan, melainkan membingungkan.
Keheningan memunculkan kebosanan, kegelisahan, bahkan rasa bersalah karena tidak “produktif”.
Padahal, kebosanan sering kali menjadi fase transisi penting bagi tubuh untuk menurunkan ketegangan.
Belajar Merasa Aman Tanpa Rasa Mendesak
Melambat bukan sekadar keputusan sadar, melainkan proses melatih ulang sistem saraf agar merasa aman tanpa harus selalu bergerak.
Proses ini tidak instan dan sering kali terasa canggung di awal.
Namun, seiring waktu, tubuh belajar bahwa tidak ada ancaman nyata ketika kita berhenti sejenak.
Ketenangan yang awalnya terasa kosong perlahan berubah menjadi ruang untuk bernapas, memperluas perhatian, dan menyadari bahwa banyak hal sebenarnya bisa menunggu.
5 Cara Menghadapi Rasa Rindu pada Kekacauan
Bagi yang menyadari dirinya diam-diam merindukan kekacauan, berikut lima cara sederhana untuk menghadapi situasi tersebut:
1. Sadari Dorongan untuk Selalu Bergerak
Perhatikan momen saat Anda refleks mengecek ponsel atau mencari kesibukan.
Kesadaran tanpa menghakimi sudah membantu memutus pola otomatis.
2. Praktikkan Istirahat Singkat
Tidak perlu liburan panjang.
Tarik napas perlahan beberapa kali, duduk tanpa distraksi, atau berjalan singkat tanpa musik bisa membantu tubuh mengenali rasa aman dalam diam.
3. Biarkan Kebosanan Hadir
Alih-alih melawan kebosanan, biarkan ia ada.
Kebosanan sering menjadi pintu masuk menuju ketenangan yang lebih dalam.
4. Tantang Rasa Mendesak
Saat pikiran berkata “harus sekarang”, tanyakan: apa yang terjadi jika menunggu lima menit? Banyak hal tidak seurgent yang kita bayangkan.
5. Pilih Lingkungan yang Mendukung Tenang
Ketenangan menular.
Berada di sekitar orang yang tidak menuntut performa atau produktivitas berlebih membantu tubuh belajar rileks.
Ketenangan Perlu Dipelajari, Bukan Ditaklukkan
Rindu pada kekacauan bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa tubuh sedang beradaptasi dari pola lama.
Ketenangan akan terus hadir sebagai undangan.
Tantangannya bukan menemukannya, melainkan belajar bertahan di dalamnya tanpa merasa harus melarikan diri.
Dengan memberi waktu dan ruang, keheningan yang dulu terasa asing bisa berubah menjadi tempat pulang.
(apr)



