Benarkah Cantik Jadi Syarat Nilai Diri? Saat Standar Kecantikan Tekan Perempuan di Era Modern
Ritual Kecantikan: Tekanan atau Bentuk Perawatan Diri?
ILUSTRASI - Benarkah cantik jadi syarat nilai diri? Standar kecantikan digital kian menekan perempuan di era media sosial (Foto: Canva)
Perubahan kecil, seperti berat badan naik, kulit berjerawat, atau tanda penuaan, bisa memicu rasa tidak aman berlebihan.
Jika terlihat “cantik” dianggap sama dengan diterima, maka tidak sedikit perempuan yang rela mengorbankan kesehatan fisik dan mental demi memenuhi standar tersebut.
Standar Kecantikan Bukan Sesuatu yang Netral
Anggapan bahwa standar kecantikan lahir secara alami patut dipertanyakan.
Faktanya, standar ini dibentuk oleh kepentingan budaya dan ekonomi. Industri kecantikan dan gaya hidup tumbuh dari rasa kurang puas perempuan terhadap tubuhnya sendiri.
Tren pun berganti cepat, membuat wanita terus mengejar bentuk ideal yang tak pernah benar-benar menetap.
Kondisi ini melelahkan dan dapat menggerus kesejahteraan psikologis.
Memperluas Makna Cantik bagi Perempuan
Di tengah tekanan tersebut, muncul kesadaran baru untuk menantang definisi kecantikan yang sempit.
Wacana tentang keberagaman tubuh, usia, warna kulit, hingga disabilitas mulai mendapat ruang.
Penelitian menunjukkan bahwa wanita yang memandang kecantikan secara lebih luas cenderung memiliki hubungan yang lebih sehat dengan tubuhnya serta harga diri yang lebih stabil.
Cantik tidak lagi semata soal fisik, melainkan juga mencakup kepercayaan diri, kehangatan, kreativitas, dan keaslian diri.



