AI Bisa Bikin Ponsel Jadi Lebih Buruk! Rantai Pasok Tertekan, Harga Naik, Spek Mandek
AI DI SMARTPHONE - Untuk menjalankan fitur AI on-device, ponsel justru membutuhkan RAM lebih besar. Inilah dilema utama yang kini dihadapi produsen smartphone/ Foto: Pexels
AI vs Hardware: Siapa yang Harus Dikalahkan?
Hype AI kini memunculkan dilema besar: software pintar versus hardware nyata.
Banyak pengguna menilai fitur AI belum sepenuhnya esensial dalam penggunaan sehari-hari, sementara kualitas kamera dan daya tahan baterai justru berdampak langsung.
Software bisa diperbarui lewat update, tetapi sensor kamera, lensa, dan kapasitas baterai tidak bisa ditingkatkan lewat software.
Inilah alasan mengapa banyak pengguna lebih memilih peningkatan hardware ketimbang tambahan fitur AI.
Flagship Saat Ini Justru Terlihat Lebih Menarik
Ironisnya, situasi ini membuat ponsel flagship generasi saat ini—seperti Galaxy S25 dan iPhone 17—justru terlihat sangat menarik dari sisi nilai.
Bisa jadi, perangkat inilah yang menjadi flagship “tanpa kompromi” terakhir sebelum tekanan rantai pasok AI benar-benar terasa.
Dengan kondisi saat ini, membeli ponsel generasi terbaru di masa depan bisa menjadi taruhan.
Kecuali fitur AI yang ditawarkan benar-benar revolusioner, membayar harga premium untuk perangkat dengan peningkatan hardware terbatas jelas bukan keputusan ideal.
Jika tren ini berlanjut, AI bukan hanya mengubah cara ponsel bekerja, tetapi juga mengubah nilai yang diterima konsumen—dan sayangnya, tidak selalu ke arah yang lebih baik. (jas)



