AI Bisa Bikin Ponsel Jadi Lebih Buruk! Rantai Pasok Tertekan, Harga Naik, Spek Mandek
AI DI SMARTPHONE - Untuk menjalankan fitur AI on-device, ponsel justru membutuhkan RAM lebih besar. Inilah dilema utama yang kini dihadapi produsen smartphone/ Foto: Pexels
AVNMEDIA.ID - Ledakan kecerdasan buatan (AI) yang seharusnya membawa ponsel ke level lebih pintar justru berpotensi menjadi bumerang bagi konsumen.
Industri smartphone global kini menghadapi tekanan berat di sisi rantai pasok, yang berisiko membuat ponsel flagship generasi berikutnya lebih mahal, namun dengan peningkatan spesifikasi yang minim.
Alih-alih menghadirkan inovasi nyata di hardware, produsen justru dipaksa mengorbankan beberapa komponen penting demi mendukung fitur AI.
“Pajak AI” Mulai Terasa di Industri Smartphone
Laporan terbaru menyebut industri smartphone sedang menghadapi kenaikan biaya produksi terbesar dalam 26 tahun terakhir.
Penyebab utamanya bukan inflasi atau ongkos logistik, melainkan kelangkaan RAM yang semakin parah.
Pasokan memori global kini banyak diserap oleh pusat data raksasa untuk kebutuhan AI, mulai dari cloud hingga model bahasa besar.
Dampaknya, produsen ponsel harus berebut stok RAM dengan harga yang terus melonjak, hanya untuk memastikan lini produksi tetap berjalan.
Situasi ini memunculkan istilah baru di industri: “AI Tax”—biaya tambahan yang harus dibayar konsumen demi fitur AI.
Samsung Disebut Siap Pangkas Kamera demi Tekan Harga
Tekanan rantai pasok ini bahkan dikabarkan mulai memengaruhi strategi produk.
Samsung, misalnya, dirumorkan mempertimbangkan menahan peningkatan kamera di Galaxy S26 agar harga jual tidak melambung terlalu tinggi.
Artinya, biaya RAM yang membengkak bisa memaksa produsen mengorbankan kualitas optik, sensor kamera, atau komponen fisik lain—hanya demi menyeimbangkan struktur biaya produksi.
Padahal, untuk menjalankan fitur AI on-device, ponsel justru membutuhkan RAM lebih besar.
Inilah dilema utama yang kini dihadapi produsen smartphone.
Risiko “Resesi Spesifikasi” Mengintai Konsumen
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya “spec-cession” atau resesi spesifikasi.
Biasanya, ponsel baru hadir dengan harga relatif sama, namun menawarkan chipset lebih cepat, layar lebih baik, dan kamera lebih canggih.
Kini, pola tersebut terancam berubah.
Konsumen bisa saja membayar lebih mahal untuk ponsel dengan peningkatan hardware yang sangat terbatas—atau bahkan lebih buruk dibanding generasi sebelumnya.
Masalah ini tidak hanya dialami Samsung. Apple, Google, hingga Xiaomi sama-sama bergantung pada pasokan memori global yang kian mengetat, menjadikan tekanan ini bersifat industri, bukan kasus individual.
Pengguna yang Fokus Hardware Paling Terdampak
Bagi pengguna yang mengutamakan hardware fisik—seperti lensa zoom, kapasitas baterai, dan kualitas material bodi—tren ini jelas merugikan.
Jika anggaran produksi (Bill of Materials/BOM) tersedot untuk memori AI, maka komponen lain berpotensi ditekan kualitasnya.
Akibatnya, siklus upgrade bisa ikut terganggu.
Jika ponsel generasi baru hadir dengan harga lebih tinggi namun kamera atau baterai stagnan, minat untuk upgrade otomatis menurun, terutama di segmen pengguna berat.
AI vs Hardware: Siapa yang Harus Dikalahkan?
Hype AI kini memunculkan dilema besar: software pintar versus hardware nyata.
Banyak pengguna menilai fitur AI belum sepenuhnya esensial dalam penggunaan sehari-hari, sementara kualitas kamera dan daya tahan baterai justru berdampak langsung.
Software bisa diperbarui lewat update, tetapi sensor kamera, lensa, dan kapasitas baterai tidak bisa ditingkatkan lewat software.
Inilah alasan mengapa banyak pengguna lebih memilih peningkatan hardware ketimbang tambahan fitur AI.
Flagship Saat Ini Justru Terlihat Lebih Menarik
Ironisnya, situasi ini membuat ponsel flagship generasi saat ini—seperti Galaxy S25 dan iPhone 17—justru terlihat sangat menarik dari sisi nilai.
Bisa jadi, perangkat inilah yang menjadi flagship “tanpa kompromi” terakhir sebelum tekanan rantai pasok AI benar-benar terasa.
Dengan kondisi saat ini, membeli ponsel generasi terbaru di masa depan bisa menjadi taruhan.
Kecuali fitur AI yang ditawarkan benar-benar revolusioner, membayar harga premium untuk perangkat dengan peningkatan hardware terbatas jelas bukan keputusan ideal.
Jika tren ini berlanjut, AI bukan hanya mengubah cara ponsel bekerja, tetapi juga mengubah nilai yang diterima konsumen—dan sayangnya, tidak selalu ke arah yang lebih baik. (jas)



