Zara Larsson Kecam White House Gara-Gara Lagu “Midnight Sun” dipakai di Video Deportasi ICE
Zara Larsson Kritik Video Deportasi Trump yang Gunakan Lagunya
White House Pakai Lagu Zara Larsson, Sang Penyanyi Layangkan Kritik Keras / Foto: Interview Magazine
AVNMEDIA.ID - Penyanyi asal Swedia, Zara Larsson, melontarkan kritik keras setelah lagu miliknya, “Midnight Sun”, digunakan dalam sebuah video yang diunggah akun resmi Gedung Putih (White House) di TikTok.
Video tersebut menampilkan aktivitas penegakan imigrasi Amerika Serikat, termasuk operasi penangkapan yang dilakukan oleh Immigration and Customs Enforcement (ICE).
Dalam unggahan tersebut, “Midnight Sun” terdengar sebagai musik latar ketika video menampilkan sejumlah aktivitas aparat imigrasi.
Konten itu juga disertai pesan yang merujuk pada keberlanjutan operasi deportasi.
Penggunaan lagu tersebut kemudian mendapat perhatian Larsson. Melalui unggahan di media sosial, pelantun “Lush Life” itu menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap keputusan menggunakan musiknya dalam konteks penegakan kebijakan imigrasi.
Larsson mengatakan dirinya merasa sedih melihat lagu tersebut digunakan untuk mengiringi video yang menurutnya menggambarkan orang-orang dalam situasi yang merendahkan kemanusiaan mereka.
Ia juga mempertanyakan bagaimana sebuah karya yang memiliki makna personal baginya dapat ditempatkan dalam konteks tersebut.
Menurut Larsson, “Midnight Sun” memiliki pesan yang berkaitan dengan hubungan manusia, alam, dan perasaan keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar.
Karena itu, penggunaan lagu tersebut dalam video penangkapan dan deportasi dianggapnya tidak sejalan dengan makna yang ingin ia sampaikan melalui karya tersebut.
Dalam responsnya, Larsson juga berbicara mengenai keberuntungan yang ia rasakan karena lahir di Swedia.
Ia menyinggung kesempatan yang diperolehnya sejak kecil, termasuk akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, perjalanan, dan berbagai peluang lainnya.
Ia kemudian mengungkapkan pandangannya bahwa orang-orang yang menjadi sasaran kebijakan deportasi juga memiliki kehidupan, keluarga, serta alasan masing-masing untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Kritik Larsson tidak berhenti pada persoalan penggunaan musik. Ia juga melontarkan bahasa yang sangat keras terhadap pihak di balik video tersebut dan menyebut mereka sebagai 'pecundang'.
Pernyataan tersebut merupakan respons pribadi Larsson terhadap penggunaan lagunya dan tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran hak cipta atau penggunaan lagu tanpa izin.
Status perizinan penggunaan “Midnight Sun” dalam video tersebut perlu dibedakan dari kritik Larsson mengenai konteks pemakaiannya.
Kontroversi ini bukan kali pertama musik Zara Larsson muncul dalam konten yang berkaitan dengan kebijakan imigrasi pemerintahan Presiden Donald Trump.
Sebelumnya, lagu Larsson lainnya, “Lush Life”, juga digunakan dalam sebuah video yang dipublikasikan pihak Gedung Putih.
Video tersebut berkaitan dengan pesan mengenai penegakan hukum dan aktivitas ICE. Larsson pada kesempatan tersebut juga menyatakan keberatannya terhadap penggunaan musiknya.
Penggunaan musik populer dalam komunikasi politik dan pemerintahan bukan persoalan baru.
Para musisi dalam sejumlah kasus sebelumnya juga pernah menyatakan keberatan ketika karya mereka digunakan dalam konteks yang tidak mereka dukung atau tidak sesuai dengan citra maupun pesan karya tersebut.
Dalam kasus terbaru ini, titik persoalannya adalah perbedaan antara konteks asli lagu “Midnight Sun” dan pesan yang muncul dalam video Gedung Putih.
Larsson secara terbuka menyatakan bahwa dirinya tidak menginginkan karyanya diasosiasikan dengan konten tersebut.
“Midnight Sun” sendiri merupakan salah satu lagu yang mendapat perhatian besar di platform digital.
TikTok bahkan memasukkan Zara Larsson dalam daftar artis yang mendapat penghargaan terkait tren musik musim panas 2026, menunjukkan besarnya eksposur lagu tersebut di platform tersebut.
Peristiwa ini pada akhirnya memperlihatkan bagaimana penggunaan lagu populer dalam komunikasi pemerintah dapat memunculkan respons langsung dari artis yang menciptakannya.
Bagi Larsson, persoalannya bukan sekadar lagu yang terdengar dalam sebuah video, tetapi juga pesan dan konteks yang muncul ketika karya tersebut digunakan.
Sementara itu, perdebatan mengenai kebijakan imigrasi pemerintahan Trump tetap menjadi isu politik yang lebih luas di Amerika Serikat.
Kritik Larsson terhadap penggunaan “Midnight Sun” merupakan posisi pribadinya sebagai artis dan perlu dibedakan dari fakta mengenai kebijakan deportasi maupun proses hukum imigrasi AS.
Dengan munculnya respons Larsson, penggunaan “Midnight Sun” oleh Gedung Putih kembali menarik perhatian publik terhadap hubungan antara musik, hak seniman, komunikasi politik, dan penggunaan karya kreatif dalam isu-isu kontroversial. (san)





