Turun Berat Badan dan Tetap Positif terhadap Tubuh, Kok Bisa? Kenali Body Positivity
Berat Badan, Kesehatan, dan Stigma Tubuh
ILUSTRASI - Bisakah menurunkan berat badan dan tetap positif terhadap tubuh? Simak penjelasan body positivity (Foto: Indonesiana)
AVNMEDIA.ID - Pertanyaan tentang apakah seseorang bisa menurunkan berat badan dan tetap merasa positif terhadap tubuh semakin sering muncul.
Hal ini terutama setelah obat GLP-1 untuk penurunan berat badan semakin populer dan memicu diskusi seputar kesehatan, penampilan, dan perawatan diri.
Meski terdengar wajar karena semua orang ingin merawat tubuh mereka, pertanyaan ini sebenarnya mengungkap bagaimana masyarakat sering mengaitkan berat badan dengan nilai diri, kesehatan, dan moral.
Sementara itu, gerakan body positivity lahir untuk menentang pandangan tersebut.
Apa Itu Body Positivity Sebenarnya?
Gerakan body positivity bukanlah slogan mencintai diri sendiri atau kampanye pemasaran.
Gerakan ini lahir dari aktivisme kaum gemuk, khususnya yang dipimpin oleh aktivis gemuk, kulit hitam, dan queer, untuk menentang diskriminasi terhadap tubuh gemuk.
Inti dari body positivity adalah martabat, keselamatan, dan kesetaraan bagi semua orang, terutama mereka yang tubuhnya dimarjinalkan.
Tujuan utamanya bukan mengubah penampilan agar merasa lebih baik, melainkan menantang sistem yang menyamakan tubuh kurus dengan moral, kesehatan, dan nilai diri.
Merawat Tubuh Tidak Harus Mengecilkan Berat Badan
Banyak orang percaya bahwa sehat berarti lebih kurus.
Namun, merawat tubuh tidak selalu berarti menurunkan berat badan.
Perawatan tubuh bisa dilakukan melalui:
- Makan secara teratur
- Bergerak dengan cara yang menyenangkan, bukan menyiksa
- Mengelola stres
- Istirahat cukup
- Mengonsumsi obat bila diperlukan
- Mengecek kesehatan melalui laboratorium
Jika fokus utama adalah menurunkan berat badan, hal ini justru bisa memperkuat anggapan bahwa tubuh lebih kecil lebih baik, yang bertentangan dengan prinsip body positivity.
Berat Badan, Kesehatan, dan Stigma Tubuh
Kesehatan dan berat badan lebih kompleks dari yang dipahami banyak orang.
Banyak orang dapat meningkatkan kesehatan jantung, gula darah, dan daya tahan tubuh hanya melalui perubahan gaya hidup, tanpa tergantung pada timbangan.
Di sisi lain, stigma terhadap tubuh besar nyata adanya.
Orang dengan tubuh lebih besar sering mendapat layanan medis yang diabaikan, diagnosis terlambat, dan asumsi bias.
Pendekatan body positivity menekankan bahwa perawatan yang hormat dan berbasis bukti harus berlaku untuk semua ukuran tubuh.
Body Positivity dalam Pemulihan Gangguan Makan
Bagi orang yang sedang dalam pemulihan gangguan makan, fokus pada berat badan bisa mengaktifkan kembali pola lama seperti kontrol diri, rasa malu, dan pengawasan tubuh.
Dalam konteks ini, tujuan bukan mencintai penampilan tubuh setiap hari, tetapi mencapai kedamaian, yakni kedamaian dengan makanan, bebas dari pemeriksaan tubuh terus-menerus, dan kebebasan dari keyakinan bahwa hidup akan dimulai setelah tubuh berubah.
Bagi banyak orang, body neutrality lebih realistis dibandingkan positif terus-menerus.
Artinya, menghormati tubuh tanpa menjadikan penampilan sebagai fokus utama hidup.
Kesimpulan
Apakah bisa menurunkan berat badan dan tetap mengidentifikasi diri sebagai body positive? Mungkin saja.
Namun, jika fokus tetap pada angka timbangan, pesan utama body positivity bisa hilang, di mana gerakan ini tidak tentang merayakan penurunan berat badan, tapi tentang membongkar keyakinan bahwa harga diri harus diperoleh melalui perubahan tubuh.
(apr)




