Studi FedEx: Keberlanjutan Jadi Penentu Strategi Rantai Pasok Bisnis Asia Pasifik
FEDEX - Praktik berkelanjutan tidak lagi diposisikan sebagai nilai tambah, melainkan sebagai kebutuhan agar perusahaan tetap relevan di era ekonomi digital/ HO to Avnmedia.id
Meski harga dan kualitas produk tetap menjadi pertimbangan utama, hampir empat dari sepuluh konsumen di Asia Pasifik mengaku bersedia membayar lebih untuk kemasan yang lebih ramah lingkungan.
Tren ini menegaskan bahwa nilai keberlanjutan mulai berdampak langsung pada keputusan belanja dan, pada akhirnya, kinerja bisnis.
Keberlanjutan dari Kepatuhan Menjadi Mesin Pertumbuhan
Seiring meningkatnya kesadaran konsumen, pelaku usaha pun mulai menata ulang strategi operasional mereka.
Praktik berkelanjutan tidak lagi diposisikan sebagai nilai tambah, melainkan sebagai kebutuhan agar perusahaan tetap relevan di era ekonomi digital.
“Keberlanjutan telah berevolusi dari sekadar kewajiban kepatuhan menjadi pendorong utama pertumbuhan, ketahanan, dan diferensiasi dalam perdagangan global,” ujar Salil Chari, Regional President, Asia Pacific, FedEx dalam keterangan media yang diterima redaksi Avnmedia.id
Ia menambahkan, FedEx menargetkan operasi carbon-neutral secara global pada 2040, dengan fokus pada inovasi layanan, optimalisasi jaringan, serta pemanfaatan perangkat digital untuk membantu pelanggan membuat keputusan pengiriman dengan emisi lebih rendah.
Strategi FedEx Menuju Logistik yang Lebih Berkelanjutan
Untuk menjawab kebutuhan pasar, FedEx terus memperkuat investasi pada teknologi dan infrastruktur yang dirancang untuk menekan dampak lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Optimalisasi Rute Berbasis AI
Salah satu inisiatif utama FedEx adalah Stops Sequencing, alat berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mengoptimalkan rute pengiriman secara real-time.
Teknologi ini mempertimbangkan volume dan karakteristik paket untuk menyusun urutan pengantaran yang lebih efisien, sehingga dapat mengurangi jarak tempuh, konsumsi bahan bakar, dan emisi karbon.



