Studi FedEx-JA: 99 Persen Anak Muda Indonesia Ingin Lebih Banyak Pengalaman Kerja
ILUSTRASI - Sebanyak 99 persen anak muda Indonesia berharap pendidikan memberikan lebih banyak pemahaman mengenai bagaimana dunia kerja sebenarnya berjalan/ Photo: Pexels
Persentase itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 85 persen.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pola pikir kewirausahaan tidak lagi dipandang hanya sebagai bekal untuk menjadi pengusaha.
Kemampuan melihat peluang, mengambil inisiatif, memecahkan masalah, dan beradaptasi juga dinilai relevan bagi mereka yang nantinya bekerja sebagai profesional maupun pemimpin bisnis.
Menariknya, anak muda Indonesia tetap menilai pendidikan formal sebagai fondasi penting.
Mereka memperkirakan pendidikan formal akan memberikan sekitar 81 persen bekal yang dibutuhkan untuk sukses dalam karier masa depan.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 69 persen.
Dengan demikian, kebutuhan pengalaman kerja bukan berarti pendidikan formal dianggap tidak penting.
Justru, temuan studi menunjukkan adanya kebutuhan untuk menghubungkan pendidikan dengan pengalaman nyata di dunia kerja.
Anak Muda Indonesia Siap Menghadapi AI, tetapi Praktiknya Masih Terbatas
Perubahan teknologi juga menjadi tantangan baru bagi tenaga kerja muda.
Sebanyak 84 persen anak muda Indonesia percaya mereka akan bekerja berdampingan dengan AI di masa depan.
Namun, hanya 70 persen yang merasa pendidikan mereka sudah mempersiapkan penggunaan AI dalam lingkungan kerja nyata.
Kesenjangan serupa terlihat pada pemahaman ekonomi global.
Sebanyak 94 persen responden menilai pemahaman mengenai bagaimana bisnis berjalan di berbagai negara akan relevan dengan karier mereka.
Tetapi hanya 69 persen yang mengatakan sekolah atau universitas telah mengajarkan bagaimana perdagangan lintas negara berlangsung.
Di sisi lain, anak muda Indonesia memberikan perhatian lebih besar terhadap keterampilan digital dan teknologi dalam kurikulum dibandingkan rata-rata Asia Pasifik.
Proporsinya mencapai 18 persen, sementara rata-rata kawasan berada di angka 12 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa generasi muda telah menyadari perubahan kebutuhan tenaga kerja akibat perkembangan AI dan ekonomi global.
Persoalannya adalah bagaimana pengetahuan tersebut diterjemahkan menjadi kemampuan yang benar-benar dapat digunakan ketika mereka memasuki dunia kerja.





