Spoiler Four Hands, Two Sonatas Episode 1: Kang Pi-o Bertemu Lagi dengan Choi Jeong-yo
Spoiler Four Hands, Two Sonatas Episode 1
DRAKOR - Four Hands, Two Sonatas Episode 1/Foto: Netflix
AVNMEDIA.ID - Drama Four Hands, Two Sonatas episode 1 langsung membuka cerita dengan sebuah insiden misterius di Praha pada 2017.
Di tengah ajang International Harmonie Competition, pianis muda Kang Pi-o tetap tampil meski jarinya mengalami cedera.
Di waktu yang hampir bersamaan, pianis Choi Jeong-yo justru menjadi korban penculikan.
Percobaan kabur yang dilakukannya berakhir tragis setelah ia ditembak dan tenggelam.
Sementara itu, Pi-o tetap menyelesaikan penampilannya meski darah terus mengalir dari jarinya.
Cerita kemudian mundur enam bulan sebelum kejadian tersebut dan memperkenalkan masa lalu dua pianis yang ternyata sudah saling mengenal sejak kecil.
Kang Pi-o Tak Pernah Diakui Sang Kakek
Pi-o mendapat penghargaan setelah memenangkan Lake Erie International Junior Competition.
Namun, bukannya menyimpan trofi tersebut, ia justru membuangnya ke tempat sampah kamar mandi sekolah.
Sikap dinginnya tidak lepas dari tekanan keluarga, terutama hubungannya dengan sang kakek, Maestro Kang Seung-woon.
Seung-woon menolak mengakui Pi-o sebagai cucunya dan bahkan beberapa kali merendahkan kemampuan sang cucu.
Ketika Pi-o meminta kesempatan untuk membuktikan dirinya lewat Noblesse Concert, Seung-woon akhirnya memberi syarat.
Pi-o harus menunjukkan kemampuan yang benar-benar menonjol sebelum dirinya mau mempertimbangkan pengakuan tersebut.
Tekanan itu membuat Pi-o semakin keras berlatih.
Ia bahkan memutuskan meminta pianis terkenal Do Hyun-soo menjadi gurunya.
Choi Jeong-yo Hidup dalam Tekanan Utang
Berbeda dari Pi-o yang tumbuh di lingkungan elite musik klasik, kehidupan Jeong-yo jauh lebih sulit.
Ia membantu pekerjaan bos rentenir untuk mendapatkan uang, tetapi upahnya dipotong karena utang lama ayahnya.
Uang yang diperolehnya pun dibawa pulang untuk sang ayah.
Namun, Jeong-yo justru mendapati ayahnya dalam keadaan mabuk.
Ia membersihkan rumah dan menidurkan ayahnya sebelum pergi lagi.
Masalah semakin parah ketika sang ayah akhirnya menghilang.
Rentenir kemudian datang menagih utang dan memukuli Jeong-yo.
Karena masih di bawah umur, ia bahkan tidak bisa mendapatkan kamar di motel.
Dalam keadaan terdesak, Jeong-yo akhirnya menerima tawaran beasiswa dari Korea Arts High School.
Rival Lama Bertemu Kembali
Pertemuan Pi-o dan Jeong-yo terjadi saat sebuah kompetisi musik.
Jeong-yo langsung mengenali Pi-o sebagai anak yang pernah ditemuinya ketika masih kecil.
Pi-o sendiri memenangkan kompetisi tersebut, tetapi tetap kecewa karena merasa melakukan kesalahan kecil pada bagian kadenza.
Tak lama kemudian, ia mendengar seseorang memainkan lagu kemenangannya.
Saat masuk ke ruangan, Pi-o mendapati Jeong-yo sedang duduk di depan piano.
Jeong-yo bertanya apakah Pi-o masih mengingatnya, tetapi Pi-o memilih menyangkal.
Meski begitu, Jeong-yo jelas masih mengingat masa lalu mereka.
Dalam perjalanan pulang, ia mengingat saat dirinya dan Pi-o pernah memainkan musik empat tangan ketika kecil.
Jae-in Meminta Jeong-yo Jadi Pasangan Duet
Jae-in, pemain cello sekaligus teman sekolah Pi-o, sedang kesulitan mencari pianis pendamping yang benar-benar memiliki semangat.
Ia lalu mendatangi sekolah Jeong-yo dan memintanya menjadi pianis pendamping.
Setelah sempat menolak, Jeong-yo akhirnya menerima tawaran tersebut setelah Jae-in menawarkan bayaran satu juta won untuk lima kali sesi latihan.
Keduanya mulai berlatih bersama di Korea Arts High School.
Tanpa disadari Jae-in, latihan itu juga membuka kesempatan baru bagi Jeong-yo untuk kembali masuk ke lingkungan pendidikan musik.
Jeong-yo Dapat Beasiswa Korea Arts High School
Saat mendengar Jeong-yo bermain piano, Do Hyun-soo terkejut melihat kemampuan teknisnya.
Jeong-yo mampu memainkan sejumlah perubahan dalam komposisi dengan sangat mudah.
Seon-joo yang menjabat sebagai direktur sekolah akhirnya menawarkan beasiswa.
Jeong-yo awalnya menolak, tetapi keadaan di rumah membuatnya berubah pikiran.
Pada akhirnya, Jeong-yo resmi masuk Korea Arts High School.
Kehadirannya di sekolah membuat Pi-o terkejut.
Saat guru memintanya tampil di depan kelas, Jeong-yo justru panik dan menolak bermain piano.
Ketika beberapa siswa mulai merundungnya saat istirahat, Pi-o secara tidak langsung menyelamatkan Jeong-yo dengan mengalihkan perhatian mereka.
Namun, Pi-o tetap menjaga jarak saat Jeong-yo mencoba berteman dengannya.
Pi-o Dapat Kritik Pedas dari Hyun-soo
Di tengah rasa frustrasi terhadap dirinya sendiri, Pi-o kembali mendatangi Hyun-soo dan meminta penilaian jujur.
Hyun-soo akhirnya mengatakan masalah terbesar Pi-o bukan teknik.
Kemampuan teknisnya sudah sangat kuat, tetapi permainannya dianggap tidak memiliki suara atau karakter pribadi.
Pi-o mampu memainkan not-not dengan sempurna, tetapi belum bisa benar-benar membuat penonton merasakan sesuatu melalui musiknya.
Kritik tersebut membuat Pi-o semakin bertekad memperbaiki dirinya.
Keesokan paginya, Pi-o datang lebih awal untuk berlatih.
Namun di ruang latihan, ia menemukan Jeong-yo sedang memainkan sebuah komposisi yang sangat familiar.
Pi-o kemudian mengenali lagu tersebut.
Komposisi itu merupakan karya yang pernah digunakan Jeong-yo saat mengalahkannya dalam sebuah kompetisi ketika mereka masih kecil.
Episode pertama pun berakhir dengan pertemuan kembali dua pianis yang memiliki masa lalu berbeda, tetapi terikat oleh satu hal yang sama: persaingan dalam musik. (sal)





