Riset Unit 42: LLM Berbahaya Picu Lonjakan Serangan Siber Berbasis AI, Risiko Digital Indonesia Kian Meningkat
ILUSTRASI ARTIFICIAL INTELLIGENCE - Menurut laporan terbaru Accenture, data yang tersebar, terfragmentasi, dan tidak konsisten membuat perusahaan kesulitan mengambil keputusan strategis dan memaksimalkan potensi AI/ Foto: Pexels
Menurut Unit 42, kehadiran dark LLMs secara drastis menurunkan hambatan teknis bagi pelaku kejahatan siber.
Aktivitas yang sebelumnya membutuhkan keahlian tinggi dan waktu lama kini dapat dilakukan secara instan, murah, dan terlokalisasi, termasuk dalam konteks Bahasa Indonesia.
Tiga Dampak Utama LLM Berbahaya bagi Lanskap Siber Indonesia
Unit 42 mengidentifikasi tiga perubahan besar yang berpotensi mengubah peta ancaman siber di Indonesia.
Pertama, kemampuan AI menghasilkan bahasa yang sangat presisi memungkinkan pelaku menciptakan pesan phishing dan business email compromise (BEC) yang tampak sangat meyakinkan.
Pesan-pesan ini dapat meniru gaya komunikasi pimpinan perusahaan, institusi keuangan, hingga lembaga pemerintah.
Kedua, AI mendorong komersialisasi kejahatan siber, di mana malware, phishing kits, dan skrip pencurian data dapat dihasilkan secara instan.
Hal ini menghilangkan batas antara pelaku pemula dan aktor siber berpengalaman.
Ketiga, hilangnya hambatan teknis menyebabkan kejahatan siber semakin terdemokratisasi.



