Review Film Tere Ishk Mein: Romansa Kelam Dhanush dan Kriti Sanon yang Menguras Emosi
FILM INDIA - Cerita berfokus pada Shankar (Dhanush), aktivis mahasiswa dari kelas menengah bawah yang menyimpan luka mendalam akibat kematian ibunya/ X @lostinsfictionn
AVNMEDIA.ID - Film Tere Ishk Mein akhirnya resmi tayang di Netflix dan langsung mencuri perhatian pecinta film India.
Disutradarai Aanand L. Rai, sineas yang dikenal lewat kisah cinta penuh luka seperti Raanjhanaa, film ini kembali menyuguhkan romansa tragis yang intens, emosional, sekaligus melelahkan secara psikologis.
Dibintangi Dhanush dan Kriti Sanon, Tere Ishk Mein bukan sekadar cerita cinta biasa.
Film ini menggali sisi gelap cinta—bagaimana obsesi, kelas sosial, dan kekerasan emosional saling bertabrakan dalam balutan drama yang puitis sekaligus brutal.
Kisah Cinta yang Indah, Berantakan, dan Menyakitkan
Tere Ishk Mein berakar dari semesta emosi yang mirip dengan Raanjhanaa. Aanand L. Rai kembali menempatkan cinta sebagai kekuatan ambigu: bisa menyembuhkan, tapi juga menghancurkan.
Dalam dunia Rai, cinta bukan sekadar perasaan manis, melainkan racun dan penawar di saat yang bersamaan.
Cerita berfokus pada Shankar (Dhanush), aktivis mahasiswa dari kelas menengah bawah yang menyimpan luka mendalam akibat kematian ibunya.
Amarah dan frustrasi membentuk kepribadiannya menjadi sosok yang liar, impulsif, dan sulit dikendalikan.
Berhadapan dengannya adalah Mukti (Kriti Sanon), mahasiswi psikologi dari kelas sosial atas. Awalnya, Mukti melihat Shankar bukan sebagai pasangan, melainkan objek studi—seseorang yang bisa “disembuhkan” lewat cinta, sesuai teori akademis yang ia yakini.
Namun, realitas di luar buku dan laboratorium jauh lebih kejam.
Dhanush: Brutal, Rapuh, dan Sangat Meyakinkan
Dhanush menjadi kekuatan utama film ini.
Sebagai Shankar, ia menghadirkan performa yang mentah dan menyayat. Emosi yang ia tampilkan—amarah, kecewa, cinta yang tak terbalas—terasa hidup dan menyentuh, bahkan ketika penonton tidak sepenuhnya setuju dengan cara berpikir karakternya.
Aktor asal India Selatan ini sekali lagi membuktikan kemampuannya menembus batas bahasa dan latar budaya.
Meski ada kritik soal logika karakter—terutama soal latar Delhi University—Dhanush tetap berhasil membuat Shankar menjadi sosok yang sulit dilupakan.
Kriti Sanon Tampil Lebih Dewasa dan Terkontrol
Berbeda dari peran-peran glamornya, Kriti Sanon tampil lebih tenang dan berlapis sebagai Mukti.
Ia merepresentasikan sisi rapuh dari kelas terdidik dan mapan—perempuan yang sukses secara karier, tapi goyah menghadapi kekacauan batin dan realitas sosial yang tak bisa ia kendalikan.
Chemistry antara Kriti dan Dhanush terasa tidak konvensional, bahkan sering tidak nyaman, tapi justru di situlah kekuatan emosional film ini bekerja.
Musik A.R. Rahman yang Perlahan Menghantui
Tak lengkap membahas Tere Ishk Mein tanpa menyebut A.R. Rahman. Musiknya memang tidak langsung “nendang”, tetapi perlahan meresap dan memperkuat atmosfer kegelisahan film.
Motif vokal khas Rahman muncul di momen-momen krusial, membuat ketegangan emosional terasa semakin pekat.
Kelebihan dan Kekurangan yang Sama Kuatnya
Secara visual dan emosi, Tere Ishk Mein memikat.
Namun, durasi panjang dan babak akhir yang terlalu berlarut-larut membuat film ini terasa melelahkan.
Beberapa konflik juga terasa terlalu dijelaskan, seolah penonton tidak diberi ruang untuk menafsirkan sendiri.
Meski begitu, film ini tetap layak dibicarakan. Ia berani, tidak nyaman, dan menantang persepsi penonton tentang cinta romantis yang sering dimaniskan oleh sinema arus utama.
Layak Ditonton atau Tidak?
Jika kamu menyukai film romantis yang gelap, penuh konflik batin, dan tidak menawarkan akhir manis instan, Tere Ishk Mein adalah tontonan yang tepat.
Film ini bukan untuk semua orang, tapi bagi penikmat drama emosional yang intens, karya Aanand L. Rai ini bisa menjadi pengalaman yang membekas.
Tere Ishk Mein kini sudah bisa ditonton di Netflix. (jas)



