Rekap Ashes to Crown Episode 2: Chu Zhao Ubah Takdir dan Gagalkan Rencana Kudeta Xiao Xun
Setelah mendapatkan kesempatan hidup kedua, Chu Zhao tidak lagi menjadi wanita yang naif seperti di kehidupan sebelumnya. Kali ini, ia bertekad mengubah takdir, menyelamatkan keluarganya, dan menghancurkan rencana licik Xiao Xun sebelum semuanya terlambat/ X @softstargaze
AVNMEDIA.ID - Drama China Ashes to Crown semakin menegangkan di Episode 2.
Setelah mendapatkan kesempatan hidup kedua, Chu Zhao tidak lagi menjadi wanita yang naif seperti di kehidupan sebelumnya.
Kali ini, ia bertekad mengubah takdir, menyelamatkan keluarganya, dan menghancurkan rencana licik Xiao Xun sebelum semuanya terlambat.
Episode kedua dipenuhi aksi penyelamatan, intrik politik istana, hingga perebutan takhta yang membuat alur cerita semakin seru.
Chu Zhao Berusaha Mengubah Masa Depan
Setelah terlahir kembali tiga tahun sebelum kematiannya, Chu Zhao terus memikirkan cara mencegah tragedi yang pernah menghancurkan keluarganya.
Ia mengingat bahwa dalam kehidupan sebelumnya, Pemberontakan Anping terjadi tepat pada hari pernikahannya dengan Xiao Xun, sekitar 25 hari dari sekarang.
Jika pernikahan itu bisa dibatalkan, Chu Zhao percaya kematian Putra Mahkota dan Pangeran Ketiga mungkin dapat dicegah.
Saat berjalan di jalanan ibu kota, Chu Zhao bertemu Fu Jiu, pengawal setia ayahnya yang sebenarnya bernama Xie Yanlai.
Mengetahui Fu Jiu akan segera kembali ke Yunzhong setelah mengantarkan mas kawin, Chu Zhao memohon agar dirinya dibawa pergi dari ibu kota.
Namun Fu Jiu menolak karena hanya menjalankan perintah Jenderal Chu Cen. Ia tidak bisa membawa Chu Zhao pergi tanpa izin resmi dari sang jenderal.
Menyadari banyak mata-mata Xiao Xun mengawasi mereka, Chu Zhao memilih mengurungkan niatnya untuk kabur.
Xiao Xun Percepat Rencana Kudeta
Sementara itu, situasi politik di istana semakin memanas.
Xie Yanfang, kakak dari Xie Yanlai sekaligus tokoh berpengaruh dari Klan Xie Gaoyang, mengetahui bahwa adiknya diam-diam berada di ibu kota dengan identitas Fu Jiu.
Di sisi lain, Xiao Xun juga terus memantau perkembangan politik para rivalnya. Ia mulai curiga karena sikap Chu Zhao tiba-tiba berubah dingin terhadap dirinya.
Takut rahasianya terbongkar, Xiao Xun memutuskan mempercepat rencana kudeta yang sebelumnya disiapkan untuk hari pernikahan.
Ia memerintahkan anak buah kepercayaannya, Tie Ying, untuk menjalankan skenario pembunuhan Putra Mahkota dengan memanfaatkan Pangeran Ketiga sebagai kambing hitam.
Setelah itu, Xiao Xun berencana tampil sebagai penyelamat kerajaan dan merebut takhta.
Rencana tersebut langsung dijalankan keesokan harinya.
Chu Zhao Menyelamatkan Pewaris Takhta
Kabar mengejutkan datang ketika Pangeran Ketiga benar-benar memberontak dan Putra Mahkota terbunuh.
Menyadari sejarah mulai berubah lebih cepat dari yang ia ingat, Chu Zhao segera mengambil tindakan.
Ia memerintahkan pelayannya, A'Le, untuk mencari Fu Jiu.
Sementara dirinya bergerak lebih dulu untuk menyelamatkan cucu kekaisaran, Xiao Yu.
Keputusan itu terbukti tepat.
Chu Zhao berhasil memergoki pamannya sendiri, Chu Lan, yang sedang dalam perjalanan untuk membunuh Xiao Yu atas perintah Xiao Xun.
Ia langsung membuat Chu Lan pingsan dan menyadari bahwa pamannya memang telah berkhianat.
Kini Chu Zhao semakin yakin bahwa dalang sesungguhnya di balik Pemberontakan Anping adalah Xiao Xun.
Pada saat bersamaan, para pembunuh bayaran yang dikirim Xiao Xun menyerang Istana Timur dan membantai semua orang di sana.
Namun mereka ternyata gagal membunuh Xiao Yu karena anak yang terbunuh hanyalah umpan.
- Sudah Nonton Drama China Sniper Butterfly? 6 Hal Ini Bikin Kamu Kepincut Saksikan C-Drama Romantis Beda Usia
- Penggemar C-Drama Love Between Lines? 5 Drama China Dibintangi Chen Xing Xu Ini Wajib Kamu Tonton!
- 5 Drama China yang Diperankan Wanita Lebih Tua dari Pria! Ada Falling Into You hingga Nothing But You
Fu Jiu Datang Menyelamatkan
Chu Zhao akhirnya menemukan Xiao Yu yang bersembunyi di kuil leluhur bersama Kepala Kasim Qi.
Awalnya Kasim Qi menaruh curiga kepada Chu Zhao karena ia masih bertunangan dengan Xiao Xun.
Namun Chu Zhao berhasil meyakinkannya bahwa keluarga Chu selalu setia kepada keluarga kekaisaran.
Ia mengajak Xiao Yu melarikan diri ke Yunzhong agar mendapat perlindungan dari ayahnya.
Dalam perjalanan, mereka dicegat Tie Ying dan pasukannya.
Tie Ying menuntut agar Chu Zhao menyerahkan Xiao Yu. Situasi semakin berbahaya hingga akhirnya Fu Jiu datang tepat waktu setelah mendapat pesan dari A'Le.
Dengan kemampuan tempurnya yang luar biasa, Fu Jiu berhasil menghabisi para penyerang.
Namun masalah belum selesai.
Fu Jiu bersikeras hanya akan membawa Chu Zhao kembali ke Yunzhong sesuai perintah Jenderal Chu Cen.
Ia menolak ikut melindungi Xiao Yu.
Untuk memaksanya berubah pikiran, Chu Zhao menodongkan pisau ke lehernya sendiri dan mengancam bunuh diri jika cucu kekaisaran ditinggalkan.
Tak punya pilihan lain, Fu Jiu akhirnya setuju membantu.
Pasukan Rahasia Jenderal Chu Muncul
Saat pasukan pemberontak terus berdatangan, Fu Jiu memutuskan menggunakan Dekrit Api untuk memanggil Pasukan Longwei, kekuatan rahasia yang dipercayakan langsung oleh Jenderal Chu Cen kepadanya.
Kedatangan pasukan elite tersebut membuat Chu Zhao menyadari bahwa ayahnya memiliki kekuatan militer yang jauh lebih besar daripada yang selama ini ia ketahui.
Dengan dukungan Longwei, Chu Zhao tidak memilih melarikan diri.
Sebaliknya, ia memutuskan kembali ke istana untuk menggagalkan ambisi Xiao Xun merebut takhta.
Chu Zhao Membalikkan Sejarah
Di gerbang istana, Chu Zhao dan Xiao Yu dihadang Deng Yi, komandan pengawal kerajaan yang diam-diam telah disuap Xiao Xun.
Alih-alih bertarung, Chu Zhao mencoba membujuk Deng Yi.
Ia mengingatkan bahwa sebagai sejarawan masa depan, Deng Yi akan dikenang buruk jika membantu seorang pengkhianat seperti Xiao Xun. Sebaliknya, jika mendukung pewaris sah kerajaan, namanya akan tercatat sebagai pendiri pemerintahan baru.
Ucapan tersebut berhasil menggoyahkan hati Deng Yi.
Ia akhirnya mengawal Chu Zhao dan Xiao Yu masuk ke hadapan Kaisar.
Xiao Xun Kehilangan Takhta
Di dalam istana, Kaisar yang telah meminum racun dan mengetahui ajalnya sudah dekat ternyata telah menyiapkan dekret penyerahan takhta kepada Xiao Xun.
Ia menganggap Xiao Yu masih terlalu muda untuk memimpin kerajaan.
Bahkan Kaisar sempat mempertimbangkan untuk membunuh Chu Zhao demi menghilangkan ancaman 200 ribu pasukan perbatasan milik keluarga Chu.
Namun Chu Zhao mengajukan solusi yang mengubah segalanya.
Ia meminta diangkat menjadi Putri Agung Negara.
Dengan status tersebut, ayahnya yang merupakan saudara angkat Kaisar akan menjadi keluarga kekaisaran, bukan ancaman politik.
Sebagai jaminan kesetiaannya, Chu Zhao bersumpah tidak akan menikah, tidak akan memiliki keturunan, dan tidak akan mewariskan kekuasaannya kepada siapa pun.
Ia berjanji mengabdikan seluruh hidupnya untuk melindungi kerajaan dan mendukung Xiao Yu.
Kaisar yang terharu akhirnya menerima usulan tersebut.
Tak lama kemudian, Xiao Xun memasuki istana dengan keyakinan bahwa dirinya akan dinobatkan sebagai Kaisar.
Namun semuanya berbalik.
Dekret kekaisaran justru menetapkan Xiao Yu sebagai penerus takhta. Chu Zhao diangkat menjadi Putri Agung Negara, sementara pertunangannya dengan Xiao Xun resmi dibatalkan.
Xiao Xun hanya bisa menahan amarah ketika ambisinya merebut kekuasaan runtuh di depan mata.
Pada saat yang sama, Xie Yanfang tiba bersama pasukannya dan menyaksikan langsung kegagalan besar rival politiknya.
Akhir Episode 2 Ashes to Crown
Episode 2 menjadi titik balik besar dalam cerita Ashes to Crown.
Dengan pengetahuan dari kehidupan sebelumnya, Chu Zhao berhasil mengubah jalannya sejarah, menyelamatkan Xiao Yu, serta menggagalkan rencana Xiao Xun untuk naik takhta.
Meski demikian, pertarungan antara Chu Zhao dan Xiao Xun baru saja dimulai.
Setelah kehilangan kesempatan menjadi Kaisar, Xiao Xun dipastikan tidak akan tinggal diam dan kemungkinan akan menyusun rencana balas dendam yang lebih berbahaya pada episode berikutnya. (jas)





