Psikologi di Balik Mu-hee dan Do Ra-mi di Can This Love Be Translated? Ini Penjelasan Ilmiahnya
MU-HEE DAN DO RA-MI - Mu-hee dan Do Ra-mi bukan dua orang berbeda, melainkan cerminan pertarungan antara logika dan perasaan/ X @yasollxx
AVNMEDIA.ID - Drama Korea Can This Love Be Translated? tidak hanya mencuri perhatian lewat kisah romantis dan visual sinematik lintas negara, tetapi juga melalui kompleksitas karakter utamanya.
Salah satu aspek yang paling banyak dibicarakan adalah kepribadian ganda yang ditampilkan lewat tokoh Mu-hee dan Do Ra-mi.
Fenomena ini memicu rasa penasaran penonton: apakah Mu-hee dan Do Ra-mi benar-benar mengalami gangguan psikologis, atau sekadar simbol naratif?
Dari sudut pandang psikologi, jawabannya jauh lebih kompleks dan menarik.
Mu-hee dan Do Ra-mi: Dua Wajah dalam Satu Identitas
Dalam Can This Love Be Translated?, Mu-hee digambarkan sebagai sosok rasional, tenang, dan terkendali.
Sementara Do Ra-mi hadir sebagai kebalikannya—emosional, impulsif, dan jujur terhadap perasaan.
Perbedaan kontras ini membuat banyak penonton mengaitkannya dengan konsep “kepribadian ganda”.
Namun, psikologi modern melihat fenomena ini tidak sesederhana itu.
Bukan Sekadar Kepribadian Ganda
Dalam ilmu psikologi, istilah “kepribadian ganda” jarang digunakan secara akademis.
Para ahli lebih sering menggunakan konsep disosiasi atau ego state, yang menjelaskan bagaimana satu individu bisa memiliki beberapa sisi diri yang muncul dalam situasi berbeda.
Disosiasi: Dasar Psikologi Karakter Mu-hee dan Do Ra-mi
Apa Itu Disosiasi?
Disosiasi adalah kondisi ketika pikiran memisahkan:
- emosi
- ingatan
- respons psikologis
- dan identitas diri
sebagai cara bertahan dari tekanan emosional.
Pada karakter Mu-hee dan Do Ra-mi, disosiasi ditampilkan sebagai pemisahan fungsi:
Ini adalah mekanisme bertahan yang cukup umum, terutama pada individu dengan tekanan psikologis tinggi.
Apakah Ini Dissociative Identity Disorder (DID)?
Banyak penonton mengaitkan karakter ini dengan Dissociative Identity Disorder (DID).
Namun dalam praktik klinis, DID sangat jarang terjadi, hampir selalu berakar pada trauma berat berkepanjangan, serta tidak muncul sejelas dan seterstruktur dalam drama.
Dalam Can This Love Be Translated?, pendekatan DID lebih bersifat dramatisasi naratif, bukan potret klinis yang realistis.
Ego State Theory: Pendekatan yang Lebih Realistis
Dua Ego, Satu Diri
Psikologi modern lebih melihat Mu-hee dan Do Ra-mi melalui Ego State Theory.
Teori ini menjelaskan bahwa setiap orang memiliki berbagai “bagian diri”, seperti:
- diri profesional
- diri emosional
- diri yang terluka
- diri yang ingin dicintai
Dalam kondisi sehat, semua bagian ini terintegrasi pada sosok Mu-hee.
Kebalikannya justru ada pada Do Ra-mi:
- ego pelindung menjadi dominan
- ego emosional (Do Ra-mi) terpisah dan muncul sendiri
Inilah yang membuat Do Ra-mi terasa seperti “orang lain”, padahal masih bagian dari satu identitas.
Tekanan Sosial dan Cinta sebagai Pemicu
Dalam konteks cerita, psikologi Mu-hee sangat dipengaruhi oleh tuntutan sosial, ekspektasi lingkungan, hingga ketakutan akan keintiman
Kepribadian Do Ra-mi muncul sebagai coping mechanism, cara bawah sadar untuk menyalurkan emosi yang tidak bisa diekspresikan oleh Mu-hee secara langsung.
Drama ini secara halus menunjukkan bahwa cinta sering kali memaksa seseorang berhadapan dengan sisi dirinya yang paling rentan.
Psikologi sebagai Alat Bercerita di Can This Love Be Translated?
Alih-alih menyajikan gangguan mental secara literal, Can This Love Be Translated? menggunakan psikologi sebagai metafora konflik batin, simbol identitas yang terbelah, dan
representasi luka emosional yang belum selesai.
Mu-hee dan Do Ra-mi bukan dua orang berbeda, melainkan cerminan pertarungan antara logika dan perasaan.
Dari sudut pandang psikologi, kepribadian Mu-hee dan Do Ra-mi di Can This Love Be Translated? lebih tepat dipahami sebagai:
- disosiasi ringan
- ego state yang terpisah
- dan simbol tekanan emosional
Drama ini tidak sedang membahas diagnosis medis, melainkan perjalanan manusia untuk menyatukan kembali bagian diri yang terpecah—terutama ketika berhadapan dengan cinta.
Pendekatan inilah yang membuat Can This Love Be Translated? terasa relevan, emosional, dan dekat dengan pengalaman psikologis banyak penonton. (jas)



