Pasar Pagi Samarinda Sepi, DPRD Wacanakan Rebranding agar Kembali Jadi Pusat Ekonomi
Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi/ avnmedia.id
AVNMEDIA.ID - Revitalisasi Pasar Pagi Samarinda dengan konsep modern belum sepenuhnya mampu menghidupkan kembali aktivitas perdagangan. Meski bangunan baru tampil lebih modern, kondisi di dalam pasar masih dinilai belum sesuai harapan.
Sejumlah pedagang masih mengeluhkan sepinya pembeli. Di sisi lain, tata letak lapak di pasar yang dibangun Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dengan anggaran hampir setengah triliun rupiah dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan karakter pasar rakyat.
Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian karena Pasar Pagi diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat.
“Kalau kita lihat, secara estetik oke, tapi secara fungsi kita melihat fungsinya tidak berjalan. Diharapkan menjadi penggerak ekonomi, tapi fungsinya malah tidak jalan,” ujar Iswandi.
Menurut Iswandi, pembahasan mengenai Pasar Pagi kini tidak perlu lagi berkutat pada persoalan masa lalu. Pemerintah bersama DPRD Samarinda harus mencari cara agar pasar tersebut kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi.
“Yang pertama, permasalahan pedagang ini. Pedagangnya sepi, kios masih belum terisi semua. Nah, ini harus cari solusi,” katanya.
Pasar Pagi Samarinda Diwacanakan Rebranding
Salah satu gagasan yang mulai muncul adalah melakukan rebranding Pasar Pagi Samarinda.
Namun, Iswandi menegaskan rencana tersebut masih sebatas wacana dan perlu dikaji lebih jauh. Menurutnya, konsep pasar tradisional yang dimodernisasi perlu dievaluasi apabila ternyata tidak sesuai dengan karakter dan kebiasaan masyarakat Samarinda.
“Tidak bisa kalau kita mau tetap ngotot dengan konsep ini pasar tradisional yang dimodernisasi. Tidak masuk itu kayaknya. Kasihan nanti lama-lama pedagang yang jadi korban,” tegasnya.
Kajian tersebut nantinya tidak hanya melihat kondisi bangunan. Faktor kultur masyarakat dan kebiasaan warga dalam berbelanja juga perlu menjadi pertimbangan.
Iswandi mengatakan perubahan fungsi sejumlah area bisa menjadi salah satu opsi. Misalnya, area yang sebelumnya direncanakan sebagai pasar basah dapat dikembangkan menjadi sentra kue atau kuliner.
Sementara lantai atas bisa diisi dengan fasilitas yang memiliki daya tarik tambahan, seperti kafe atau kegiatan lainnya.
“Misalkan lantai satu yang pasar basah tadi dijadikan tempat khusus kue-kue. Atau nanti di atas dijadikan kafe atau bagaimana. Tentunya supaya menarik minat masyarakat untuk datang dan berbelanja,” jelasnya.
DPRD Samarinda Libatkan Akademisi hingga Komunitas
Iswandi mengatakan seluruh gagasan terkait rebranding Pasar Pagi harus dibahas secara matang sebelum diterapkan.
DPRD Samarinda bersama Pemkot Samarinda berencana melibatkan berbagai pihak, mulai dari akademisi, praktisi, komunitas, hingga pelaku ekonomi kreatif.
“Kita undang akademisi, kita undang KPC, kita undang komunitas-komunitas kegiatan. Siapa pun yang bisa berkontribusi memberikan solusi, pemikiran, bagaimana cara menghidupkan Pasar Pagi ini,” tuturnya.
Masukan pedagang juga dinilai menjadi bagian penting dalam pembahasan.
Menurut Iswandi, perubahan konsep Pasar Pagi Samarinda jangan sampai justru melahirkan persoalan baru bagi pedagang yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas di pasar.
“Semua harus dilibatkan, harus disepakati. Jangan sampai lagi kita ingin rebranding atau ingin merubah sesuatu menjadi masalah baru lagi,” katanya.
Pasar Pagi Tak Cukup Hanya dengan Event
Upaya menghidupkan kembali Pasar Pagi Samarinda, menurut Iswandi, juga tidak cukup hanya dengan menggelar berbagai kegiatan atau event.
Pasar harus memiliki daya tarik yang membuat masyarakat memiliki alasan untuk datang, berbelanja, dan kembali lagi.
“Kalau untuk orang datang itu kan tentunya seseorang datang ke suatu tempat pasti harus ada daya tarik. Nah yang harus kita pikirkan daya tarik ini,” ujarnya.
Bagi DPRD Samarinda, persoalan Pasar Pagi kini bukan lagi sebatas bagaimana membuat bangunannya terlihat modern.
Tantangannya adalah memastikan bangunan tersebut benar-benar berfungsi sebagai pusat perdagangan yang hidup, menarik pengunjung, dan mampu menggerakkan ekonomi pedagang.
(adv)





