Kenapa Yi-an Hapus Sistem Monarki di Drama Perfect Crown? Ternyata Ini Alasannya
Alasan Yi-an Hapus Monarki
DRAMA - Yi-an memilih meninggalkan tahta dan menghapus monarki di ending drama Perfect Crown/ Foto: Disney+
AVNMEDIA.ID - Dalam drama Perfect Crown, Yi-an akhirnya memilih menghapus sistem monarki karena merasa kehidupan kerajaan justru menjadi sumber penderitaan banyak orang, termasuk dirinya sendiri.
Sepanjang cerita, ia hidup di bawah tekanan aturan istana, perebutan kekuasaan, hingga tuntutan untuk selalu mengutamakan keluarga kerajaan dibanding kebahagiaan pribadi.
Di episode final, Yi-an mulai sadar bahwa gelar bangsawan tidak pernah benar-benar memberinya kebebasan.
Ia melihat bagaimana para anggota kerajaan terus hidup dalam politik, pengorbanan, dan manipulasi demi mempertahankan tahta.
Bahkan ketika memiliki status tinggi, mereka tetap tidak bebas menentukan hidup sendiri.
- Penobatan Yi-an di Perfect Crown Tuai Kritik Publik Korea, Ternyata Detail Simbol Kerajaan Ini Jadi Pemicunya
- Spoiler Ending Episode 12 Perfect Crown: Monarki Berakhir, Yi-an dan Seong Hui-ju Nikmati Hidup Baru
- Spoiler Episode 11 Perfect Crown: Yi-an Resmi Naik Takhta, Seong Hui-ju Kini Jadi Musuh Jeong-woo?
Status Keturunan Dianggap Jadi Akar Ketimpangan
Alasan lain Yi-an ingin menghapus monarki adalah karena sistem tersebut membuat masyarakat dinilai berdasarkan garis keturunan.
Dalam dunia Perfect Crown, keluarga kerajaan selalu ditempatkan lebih tinggi dibanding rakyat biasa, sementara status sosial menjadi penentu banyak hal.
Yi-an mulai mempertanyakan mengapa seseorang harus hidup terikat hanya karena dilahirkan sebagai bangsawan.
Ia merasa sistem kerajaan menciptakan privilese sekaligus penderitaan.
Orang biasa sulit mendapatkan kesempatan yang sama, sedangkan keluarga kerajaan kehilangan kebebasan demi mempertahankan citra istana.
Konflik itu juga terlihat dari kehidupan Yi Yoon yang kehilangan masa kecil karena harus menjadi raja di usia muda.
Drama ini memperlihatkan bagaimana tahta bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi juga beban yang diwariskan turun-temurun.
Yi-an Nilai Monarki Sudah Tidak Relevan
Selama berada di lingkungan kerajaan, Yi-an melihat bagaimana negara sulit berkembang karena terlalu terikat dengan sistem lama.
Banyak keputusan penting lebih dipenuhi kepentingan politik dibanding benar-benar memikirkan rakyat.
Menurut Yi-an, monarki membuat negara berjalan lambat karena semua pihak di istana lebih fokus menjaga kekuasaan masing-masing.
Sistem kerajaan juga menciptakan jarak besar antara keluarga kerajaan dan rakyat biasa.
Karena itu, Yi-an mulai percaya bahwa negara membutuhkan perubahan besar agar bisa bergerak maju tanpa dibayangi kepentingan politik keluarga kerajaan.
Hubungan dengan Hui-ju Mengubah Cara Pandang Yi-an
Keputusan Yi-an juga dipengaruhi oleh hubungannya dengan Seong Hui-ju.
Selama bersama Hui-ju, Yi-an mulai memahami arti hidup normal tanpa tekanan kerajaan.
Hui-ju menjadi sosok yang membuatnya sadar bahwa kebahagiaan tidak harus datang dari tahta atau gelar bangsawan.
Dalam ending drama, Yi-an bahkan meminta Hui-ju memanggil namanya tanpa gelar kerajaan setelah monarki dihapus.
Momen itu menjadi simbol bahwa ia ingin hidup sebagai manusia biasa, bukan lagi sebagai pangeran yang terikat aturan istana.
Penghapusan Monarki Jadi Awal Kehidupan Baru
Pada akhirnya, rakyat dalam drama tersebut memilih mendukung penghapusan monarki melalui pemungutan suara publik.
Setelah sistem kerajaan resmi dibubarkan, Yi-an dan Hui-ju meninggalkan kehidupan istana dan menjalani hidup sederhana sebagai pasangan biasa.
Ending ini memperlihatkan bahwa Yi-an tidak lagi mengejar tahta, melainkan kebebasan.
Ia percaya seseorang seharusnya tidak dinilai dari status lahir atau gelar keluarga.
Karena itu, penghapusan monarki menjadi cara Yi-an memutus rantai politik dan penderitaan yang selama ini mengikat keluarganya. (naf)





