Bukan Sekadar Baking, Ini yang Bikin Bite Me Sweet di Viu Beda dari Kompetisi Lain
Konsep Unik: Dessert Artist, Muse, dan Cerita di Balik Rasa
Kehadiran Luvita Ho menjadi salah satu highlight di Bite Me Sweet. Pastry chef asal Indonesia ini menunjukkan bahwa baking tidak melulu soal teknik tinggi, tetapi juga soal empati dan storytelling/ Viu Indonesia
AVNMEDIA.ID - Di tengah banyaknya kompetisi memasak, Bite Me Sweet datang dengan pendekatan yang berbeda.
Tayang di Viu setiap Jumat, variety show ini tidak hanya menilai rasa dan plating, tetapi juga kemampuan peserta menerjemahkan karakter seseorang menjadi sebuah dessert.
Setiap peserta dipasangkan dengan seorang “muse”—rising star Korea dengan latar belakang dan kepribadian berbeda.
Menariknya, proses kreatif dimulai bukan dari dapur, melainkan dari observasi: memahami karakter, energi, hingga cerita personal sang muse.
Dari situ, dessert bukan lagi sekadar makanan, tapi bentuk interpretasi.
Luvita Ho: Membawa Perspektif Baru dari Indonesia
Kehadiran Luvita Ho menjadi salah satu highlight di Bite Me Sweet. Pastry chef asal Indonesia ini menunjukkan bahwa baking tidak melulu soal teknik tinggi, tetapi juga soal empati dan storytelling.
Menurutnya, tantangan terbesar justru terletak pada kolaborasi lintas latar belakang.
“Di sini aku gak baking sendirian, tapi harus menyatukan visi dengan muse. Itu yang bikin prosesnya lebih kompleks,” ujarnya.
Pendekatan ini membuat Luvita tidak hanya fokus pada resep, tetapi juga pada bagaimana membangun “frekuensi” dengan pasangannya sebelum mulai menciptakan dessert.
Episode Awal: Chemistry dengan Lee Saeon Jadi Kunci
Pada misi pertama, Luvita dipasangkan dengan aktor Korea Lee Saeon.
Dari kesan awal yang dingin, interaksi mereka perlahan berubah lebih hangat.
Perubahan dinamika ini kemudian diterjemahkan Luvita ke dalam dessert “Tada! Dan-jjan Bokki”—kreasi yang menggabungkan rasa manis dan asin.
Hasilnya? Bukan hanya berhasil secara rasa, tetapi juga secara narasi.
Dessert tersebut menjadi salah satu yang paling menonjol dan bahkan masuk ke dalam menu toko Bite Me Sweet.
“Resep dan idenya luar biasa,” komentar Lee Saeon.
Lebih dari Kompetisi: Ini Tentang Cara Berpikir
Yang membuat Bite Me Sweet terasa segar adalah fokusnya pada proses, bukan sekadar hasil akhir.
Di sini, dessert berfungsi sebagai medium untuk menyampaikan cerita:
- Bagaimana karakter seseorang diterjemahkan ke rasa
- Bagaimana emosi diubah jadi tekstur
- Bagaimana pengalaman personal jadi konsep visual
Luvita sendiri menegaskan bahwa narasi menjadi faktor penting dalam menciptakan koneksi dengan penonton—atau dalam konteks acara ini, “customer”.
“Kalau ceritanya kuat, orang akan lebih connect dengan dessert yang mereka makan,” jelasnya.
Review: Format Segar yang Relevan dengan Tren Konten Saat Ini
Secara format, Bite Me Sweet punya positioning yang cukup kuat:
- Kolaboratif, bukan kompetitif murni
- Story-driven, bukan hanya skill-driven
- Visual dan emosional, cocok untuk audiens digital
Di era ketika penonton mencari sesuatu yang lebih personal dan relatable, pendekatan ini terasa relevan.
Apalagi dengan kehadiran peserta dari berbagai negara seperti Thailand, Malaysia, Hong Kong, dan Filipina, perspektif yang ditawarkan jadi lebih kaya.
Kesimpulan: Worth Watching?
Bite Me Sweet bukan sekadar tontonan baking biasa.
Ini adalah eksplorasi tentang bagaimana makanan bisa menjadi bahasa untuk memahami manusia.
Lewat pendekatan yang dibawa Luvita Ho, terlihat jelas bahwa: baking bukan hanya soal teknik, tapi soal makna di balik setiap rasa.
Bagi kamu yang mencari variety show dengan konsep segar, emosional, dan sedikit berbeda dari kompetisi memasak pada umumnya, Bite Me Sweet layak masuk watchlist. (jas)





