Amar Bank dan JAFF Bedah Tantangan Bankability Pekerja Film, dari Arus Kas hingga Aset IP
Momen FGD yang dilakukan antara Amar Bank dengan para asosiasi perfilman/ HO to Avnmedia.id
2. Dana Produksi dan Pendapatan Pribadi Bercampur
Persoalan lain muncul pada profesi seperti casting director dan sinematografer.
Dalam sejumlah proyek, dana produksi dapat masuk terlebih dahulu ke rekening profesional sebelum digunakan untuk membayar kebutuhan kru maupun talent.
Akibatnya, nilai transaksi pada rekening dapat terlihat lebih besar dibandingkan pendapatan pribadi yang sebenarnya diterima.
Kondisi tersebut juga membuat pencatatan penghasilan dan kewajiban perpajakan menjadi lebih kompleks.
3. Kekayaan Intelektual Belum Sepenuhnya Dibaca sebagai Aset
Pekerja kreatif juga dapat memiliki intellectual property (IP) atau karya yang mempunyai nilai komersial di luar pendapatan dari sebuah proyek.
Namun, nilai ekonomi dari karya tersebut belum selalu diperhitungkan dalam membentuk profil finansial maupun akses pendanaan.
Padahal, dalam ekonomi kreatif, IP dapat menjadi bagian penting dari model bisnis dan sumber pendapatan jangka panjang.
4. Rekam Keuangan dan Legal Belum Seragam
Sebagian pekerja film masih beroperasi sebagai individu dengan pola kerja berbasis proyek.
Kondisi tersebut membuat pencatatan transaksi, kontrak, tata kelola keuangan, hingga aspek legal belum selalu terdokumentasi secara seragam.
Bagi lembaga keuangan, dokumentasi yang lebih tertata dapat membantu membaca profil risiko, kemampuan finansial, sekaligus kebutuhan pembiayaan secara lebih akurat.
Amar Bank Dorong Teknologi untuk Membangun Bankability
Persoalan tersebut kemudian menjadi salah satu ruang yang ingin dijawab Amar Bank melalui Amar Bank Bisnis dengan pendekatan “Nurturing”.
Pendekatan ini menempatkan teknologi sebagai sarana untuk membantu pelaku usaha membangun rekam jejak transaksi, melakukan pencatatan keuangan, serta mengelola kebutuhan operasional melalui platform digital.
Bagi sektor perfilman, rekam transaksi yang lebih tertata dapat menjadi bagian dari proses membangun profil finansial yang lebih mudah diverifikasi.
“Kami melihat dukungan finansial juga perlu berjalan bersama penguatan tata kelola, agar kreativitas tetap tumbuh dengan fondasi pengelolaan risiko yang lebih kuat,” kata Josua.





