AI Berkembang Pesat, Mengapa Perusahaan Indonesia Masih Mengalami Blind Spot di Operasional IT?
ARTIFICIAL INTELLIGENCE - Ilustrasi AI/ Pexels
AVNMEDIA.ID - Transformasi digital di Indonesia memasuki babak baru.
Setelah bertahun-tahun berfokus pada migrasi cloud, modernisasi aplikasi, hingga otomatisasi proses bisnis, kini perusahaan mulai berlomba mengadopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai penggerak utama pertumbuhan.
Namun, di balik pesatnya investasi tersebut, muncul tantangan yang justru semakin kompleks.
Organisasi kini menghasilkan volume data operasional yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya, tetapi semakin sulit memperoleh gambaran utuh mengenai kondisi infrastruktur IT mereka secara real time.
Fenomena ini dikenal sebagai operational blind spots, yakni kondisi ketika perusahaan memiliki banyak data, tetapi kekurangan visibilitas untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di lingkungan teknologi mereka.
AI Mempercepat Bisnis, Tetapi Kompleksitas IT Ikut Meningkat
Perkembangan AI telah mengubah ritme operasional perusahaan.
Mulai dari layanan pelanggan, analitik bisnis, hingga otomatisasi proses kini berjalan lebih cepat berkat dukungan teknologi berbasis AI.
Namun, kecepatan tersebut juga memunculkan tantangan baru.
Semakin banyak aplikasi, server, jaringan, endpoint, hingga sistem keamanan yang saling terhubung, semakin besar pula volume telemetri, log, dan alert yang harus dipantau tim IT setiap hari.
Masalahnya, tidak semua alert menunjukkan persoalan yang benar-benar kritis.
Tanpa kemampuan menghubungkan berbagai informasi tersebut dalam satu konteks, tim IT justru dibanjiri noise, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan akar penyebab gangguan.
Kondisi inilah yang melahirkan decision latency, yakni jeda waktu sejak insiden terjadi hingga organisasi mampu memahami penyebabnya dan mengambil keputusan yang tepat.
Dalam bisnis digital, keterlambatan beberapa menit saja dapat berdampak pada kualitas layanan, pengalaman pelanggan, bahkan potensi kerugian bisnis.
Adopsi AI Melaju, Kesiapan Operasional Belum Mengikuti
Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan adopsi AI yang cukup agresif.
Sebanyak 66 persen perusahaan telah berinvestasi atau berencana mengimplementasikan teknologi agentic AI, menandakan AI kini mulai menjadi bagian dari strategi bisnis jangka panjang.
Di sisi lain, penggunaan AI di tingkat individu juga terus meningkat. Sekitar 69 persen pekerja di Indonesia mengaku telah menggunakan AI dalam satu tahun terakhir.
Meski demikian, hanya 16 persen yang memanfaatkannya setiap hari.
Data tersebut menunjukkan sebagian besar organisasi masih berada pada tahap awal implementasi, sementara kesiapan operasional IT belum berkembang secepat adopsi teknologinya.
Padahal, AI membutuhkan data yang bersih, saling terhubung, dan tersedia secara real time agar mampu menghasilkan analisis yang akurat.
Ketika data masih tersebar di berbagai sistem atau data silo, kualitas insight yang dihasilkan AI ikut menurun.
Pada saat yang sama, risiko keamanan siber juga meningkat.
Tidak mengherankan apabila 68 persen pemimpin bisnis dan teknologi di Indonesia kini menempatkan ancaman siber sebagai salah satu dari tiga prioritas utama perusahaan.
Dari Alert Menuju Insight
Perubahan lanskap digital membuat pendekatan tradisional dalam mengelola operasional IT mulai ditinggalkan.
Jika sebelumnya tim IT berfokus merespons setiap alert yang muncul, kini organisasi lebih membutuhkan kemampuan menghubungkan berbagai sinyal operasional menjadi satu insight yang mudah dipahami.
Gangguan kecil pada aplikasi, misalnya, bisa menjadi indikasi awal persoalan yang lebih besar pada jaringan, server, atau sistem keamanan.
Tanpa visibilitas menyeluruh, organisasi berisiko hanya mengatasi gejala, bukan sumber permasalahannya.
Karena itu, semakin banyak perusahaan mulai memanfaatkan pendekatan Artificial Intelligence for IT Operations (AIOps) untuk menghubungkan data operasional, mengurangi noise, mengenali pola, sekaligus mempercepat identifikasi akar penyebab insiden.
Tujuannya bukan sekadar menghasilkan lebih banyak data, melainkan mempercepat proses pengambilan keputusan.
IT Kini Menjadi Fondasi Keputusan Bisnis
Peran departemen IT juga mengalami perubahan signifikan.
Jika sebelumnya hanya dipandang sebagai fungsi pendukung operasional, kini IT menjadi fondasi utama yang menentukan seberapa cepat perusahaan merespons perubahan pasar, menjaga kontinuitas layanan, serta mempertahankan pengalaman pelanggan.
Ketika visibilitas terhadap sistem masih terfragmentasi, proses pengambilan keputusan ikut melambat.
Sebaliknya, visibilitas yang terintegrasi memungkinkan organisasi mendeteksi potensi gangguan lebih awal sebelum berdampak terhadap operasional bisnis.
Karena itu, banyak perusahaan mulai mengintegrasikan IT service management, sistem monitoring, hingga keamanan siber ke dalam satu ekosistem operasional.
ManageEngine Dorong Visibilitas Operasional IT
Perubahan kebutuhan tersebut turut menggeser peran platform manajemen IT.
Fokusnya tidak lagi sebatas menjaga uptime sistem, tetapi membantu organisasi memperoleh visibilitas menyeluruh terhadap seluruh lingkungan teknologi agar keputusan dapat diambil secara lebih cepat dan akurat.
Melalui pendekatan yang menghubungkan data dari endpoint, jaringan, aplikasi, server, hingga sistem keamanan dalam satu platform, serta memanfaatkan AI untuk mengidentifikasi hubungan antarinsiden, solusi seperti ManageEngine membantu perusahaan mengurangi decision latency sekaligus mempercepat identifikasi akar penyebab masalah.
Dengan visibilitas yang lebih menyeluruh, tim IT tidak lagi menghabiskan sebagian besar waktunya memilah ribuan alert setiap hari.
Sebaliknya, mereka dapat lebih fokus pada peningkatan layanan, pengelolaan risiko, dan inovasi yang memberikan nilai tambah bagi bisnis.
Visibilitas Menjadi Fondasi Transformasi Digital
Technical Manager ManageEngine Indonesia, Hanief Bastian, mengatakan tantangan terbesar perusahaan saat ini bukan lagi sekadar kompleksitas infrastruktur, melainkan keterbatasan visibilitas terhadap keseluruhan lingkungan IT.
"Banyak organisasi mengira tantangan terbesar mereka adalah kompleksitas. Padahal, yang kami temui di lapangan justru adalah kurangnya visibilitas terhadap keseluruhan lingkungan IT," ujar Hanief.
Menurutnya, saat sebuah insiden terjadi, perusahaan sebenarnya tidak kekurangan data. Persoalan utamanya adalah waktu yang dibutuhkan untuk menghubungkan berbagai informasi yang tersebar sebelum tim memahami akar masalah.
"Sering kali, ketika jawabannya sudah ditemukan, dampaknya sudah telanjur meluas. Karena itu, mengurangi decision latency menjadi semakin penting, terutama ketika bisnis semakin bergantung pada AI dan operasional real time," jelasnya.
Hanief menambahkan, investasi AI tidak dapat berdiri sendiri. Organisasi juga harus memastikan fondasi operasional IT memiliki visibilitas yang memadai agar setiap keputusan diambil berdasarkan informasi yang utuh, bukan potongan data yang tersebar di berbagai sistem.
Seiring memasuki babak baru transformasi digital, keberhasilan perusahaan tidak lagi hanya ditentukan oleh banyaknya teknologi yang diadopsi.
Yang menjadi pembeda adalah kemampuan mengubah data menjadi insight, insight menjadi keputusan, dan keputusan menjadi tindakan yang cepat serta tepat.
Di era AI dan meningkatnya ancaman siber, visibilitas operasional IT diproyeksikan menjadi salah satu keunggulan kompetitif yang menentukan daya saing perusahaan di masa depan. (jas)





