Spoiler Episode 5 Bloody Flower: Rencana Monopoli Obat Terbongkar, Woo-gyeom Jadi “Mesin Uang”?
BLOODY FLOWER - Episode ini menandai babak baru: bukan lagi soal vonis, melainkan siapa yang akan mengendalikan “obat penyelamat nyawa” dan menjadikannya ladang bisnis/ X @huminifier
AVNMEDIA.ID - Spoiler episode 5 Bloody Flower benar-benar mengubah arah cerita.
Jika sebelumnya drama ini fokus pada persidangan dan tuntutan hukuman mati, kini konflik melebar ke politik medis dan dugaan monopoli obat yang mengerikan.
Episode ini menandai babak baru: bukan lagi soal vonis, melainkan siapa yang akan mengendalikan “obat penyelamat nyawa” dan menjadikannya ladang bisnis.
Vonis Hakim: Woo-gyeom Selamat dari Hukuman Mati
Sidang akhirnya mencapai titik akhir.
Hakim memutuskan bahwa jumlah nyawa yang berpotensi diselamatkan Woo-gyeom di masa depan akan melebihi korban yang telah ia bunuh.
Alih-alih hukuman mati, Woo-gyeom dijatuhi hukuman menjalani masa tahanan di fasilitas isolasi Cheum Medical Center.
Di sana, ia wajib merawat pasien stadium akhir menggunakan terapi dari darahnya.
Namun ada syarat tegas: jika ia menolak, hukuman mati bisa diberlakukan kembali.
Putusan ini membuat Jaksa Cha terpukul.
Sementara Han-jun justru menyampaikan pleidoi emosional tentang harapan bagi anak-anak dan keluarga yang menanti keajaiban.
Chae Jeong-su Mulai Bermain: Obat Jadi Ladang Bisnis?
Di balik keputusan pengadilan, muncul agenda yang jauh lebih gelap.
Chae Jeong-su, Ketua Cheum Medical Center, terang-terangan ingin menguasai distribusi obat dari darah Woo-gyeom.
Ia bahkan menjanjikan Han-jun bahwa Min-seo akan mendapat prioritas pengobatan—asal Woo-gyeom mau bekerja sama.




