SCG Catat Pertumbuhan EBITDA 17 Persen di Q1 2026, Perkuat Resiliensi Bisnis Hadapi Gejolak Global
SCG mengumumkan kinerja konsolidasi pada kuartal I 2026 dengan EBITDA tumbuh 17% (year-on-year) sebesar Rp8,3 triliun/ HO to Avnmedia.id
AVNMEDIA.ID - Perusahaan regional ASEAN, SCG, mencatat pertumbuhan kinerja positif pada kuartal I 2026 di tengah tekanan ekonomi global akibat konflik geopolitik Timur Tengah dan volatilitas harga bahan baku serta energi.
Dalam laporan kinerja terbarunya, SCG membukukan EBITDA sebesar Rp8,3 triliun atau tumbuh 17 persen secara year-on-year (YoY).
Sementara laba perusahaan tercatat mencapai Rp3,4 triliun dengan total pendapatan penjualan sebesar Rp68,9 triliun.
Pencapaian tersebut ditopang oleh sejumlah strategi mitigasi risiko yang diterapkan perusahaan, mulai dari pembentukan “Daily War Room”, pengendalian biaya bahan baku dan energi, hingga pengetatan disiplin keuangan di seluruh lini bisnis.
President and CEO SCG, Thammasak Sethaudom, mengatakan perusahaan terus memperkuat daya saing dan ketahanan bisnis di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
“SCG tetap menjaga disiplin keuangan secara ketat dan mempercepat upaya memperkuat daya saing seluruh bisnis agar tetap tangguh menghadapi dinamika global,” ujar Thammasak dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026).
Menurut dia, perusahaan juga terus memantau perkembangan geopolitik dan kondisi ekonomi dunia untuk memastikan keberlanjutan pertumbuhan jangka panjang.
Bentuk Daily War Room untuk Antisipasi Krisis Pasokan Global
Sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan rantai pasok global, SCG membentuk pusat pengambilan keputusan cepat bernama “Daily War Room”.
Melalui sistem tersebut, perusahaan dapat mempercepat pengadaan bahan baku dari berbagai negara dan menjaga ketersediaan produk utama, khususnya kategori High Value-Added Products (HVA).
SCG juga memperkuat efisiensi energi dengan memperluas penggunaan energi alternatif dan kendaraan listrik untuk distribusi produk.
Selain itu, restrukturisasi operasional dan penghentian bisnis yang dinilai kurang menguntungkan berhasil menghasilkan efisiensi biaya hingga Rp3,46 triliun sepanjang 2026.
SCG Perkuat Infrastruktur Regional ASEAN
Dalam dua tahun ke depan, tepatnya periode 2026–2027, SCG menargetkan penguatan infrastruktur bisnis regional guna meningkatkan daya saing lintas sektor industri di ASEAN.
Strategi tersebut dilakukan melalui konsolidasi produksi, implementasi teknologi robotik, hingga otomatisasi pabrik di sejumlah negara ASEAN.





