Kesiapan Digital Indonesia 2026: Tantangan IT dan Keamanan Siber Makin Kompleks
KEAMANAN DIGITAL - Memasuki 2026, fokus organisasi perlu bergeser dari ekspansi ke konsolidasi sistem IT dan keamanan siber/ HO to Avnmedia.id
AVNMEDIA.ID - Transformasi digital Indonesia selama 2025 menunjukkan fase baru: bukan lagi soal adopsi atau skala, melainkan ketergantungan sistem digital yang semakin dalam pada ekonomi, layanan publik, dan operasi bisnis nasional.
Memasuki 2026, keputusan IT yang diambil pada 2024–2025 mulai berdampak nyata, menghadirkan risiko operasional, keamanan, dan tata kelola yang memengaruhi keberlanjutan dan daya saing global Indonesia.
Ekonomi Digital Indonesia Tumbuh, Risiko Makin Nyata
Menurut e-Conomy SEA 2025, nilai ekonomi digital Indonesia hampir menyentuh USD 100 miliar, terbesar di Asia Tenggara.
E-commerce menjadi kontributor utama, diikuti layanan keuangan digital dan media online, menunjukkan tingginya ketergantungan bisnis pada platform digital.
Sementara itu, BPS mencatat lebih dari 70% penduduk telah mengakses internet pada 2024, menjadikan gangguan sistem atau kebocoran data bukan hanya masalah IT, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang luas.
Tantangan Tata Kelola dan Keamanan Siber
Kajian internasional, termasuk laporan Bank Dunia, menunjukkan bahwa adopsi digital Indonesia belum diimbangi dengan pengelolaan risiko yang matang.
Keamanan siber masih belum merata, koordinasi antar-lembaga terbatas, dan pengelolaan sistem digital masih terfragmentasi.
Insiden siber meningkat, menargetkan sektor publik dan swasta. Banyak organisasi memprioritaskan kecepatan ekspansi digital tanpa investasi memadai pada integrasi, tata kelola, dan keamanan jangka panjang.
Akibatnya, kompleksitas sistem meningkat, dan risiko menjadi struktural, bukan sekadar tantangan sementara.




