Ribuan Fans K-pop Desak Hana Bank Stop Pendanaan Energi Fosil, Soroti Proyek Nikel di Pulau Obi
PERTEMUAN - Sejak diluncurkan pada 9 April 2026, petisi “Hana Bring K-pop Not Coal” telah mengumpulkan lebih dari 1.000 tanda tangan/ HO to Avnmedia.id
AVNMEDIA.ID - Ribuan penggemar K-pop menandatangani petisi yang mendesak Hana Bank segera menghentikan pendanaan terhadap proyek yang masih terintegrasi dengan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara baru.
Aksi ini menjadi bagian dari kampanye “Hana, Bring K-pop Not Coal”, yang menyoroti dugaan ketidakkonsistenan komitmen lingkungan Hana Financial Group terhadap pembiayaan energi fosil.
Petisi tersebut digaungkan dalam acara talkshow bertajuk “No K-pop on a Dead Planet: Aksi Penggemar K-pop untuk Penghentian Pendanaan Hana Bank ke Energi Fosil” di Jakarta pada 18 April 2026.
Kegiatan itu juga masuk dalam rangkaian PE5TA WARGI K-POP, perayaan lima tahun gerakan iklim global Kpop4Planet.
Fans K-pop Nilai Respons Hana Bank Masih Samar
Juru kampanye Kpop4Planet Indonesia, Nurul Sarifah, mengatakan petisi ini muncul setelah Hana Bank merespons surat terbuka sebelumnya dengan pernyataan yang dinilai tidak memberikan solusi konkret.
Menurutnya, dampak proyek nikel di Pulau Obi terhadap masyarakat dan lingkungan sudah terlihat jelas, namun respons perusahaan justru dianggap belum menunjukkan langkah nyata.
Ia menilai publik membutuhkan komitmen yang lebih tegas, bukan sekadar pernyataan normatif.
Soroti Pendanaan US$84 Juta ke Proyek Nikel Harita
Pada 2022, Hana Bank disebut mendanai proyek nikel milik Grup Harita senilai US$84 juta. Proyek tersebut dikabarkan ditopang oleh PLTU batu bara baru.
Isu ini menjadi sensitif karena sebelumnya, pada 2021, Hana Financial Group telah menyatakan akan menghentikan pembiayaan proyek terkait batu bara di dalam maupun luar negeri.
Di Pulau Obi, Grup Harita diketahui tengah membangun dan mengoperasikan pembangkit listrik tenaga batu bara berkapasitas 1,6 gigawatt (GW), dengan rencana ekspansi menjadi lebih dari 4 GW.
Dampak Emisi Jadi Sorotan
Senior Asia Energy Finance Campaigner Market Forces, Binbin Mariana, menilai pembiayaan terhadap proyek tersebut ikut berkontribusi terhadap kenaikan emisi karbon dan tekanan lingkungan.
Menurut dia, emisi karbon Harita meningkat hampir tiga kali lipat, dari 3,74 megaton pada 2022 menjadi 10,87 megaton pada 2024.
Jumlah itu disebut setara dengan hampir 1 persen total emisi Indonesia, atau setara penggunaan sekitar 2,5 juta mobil berbahan bakar fosil selama satu tahun.
Surat Terbuka Pernah Dikirim ke Seoul
Pada Februari 2026, Kpop4Planet bersama 12 basis penggemar K-pop di Indonesia telah mengirimkan surat terbuka langsung ke Hana Bank di Seoul.
Isi surat tersebut meminta bank asal Korea Selatan itu berhenti mendanai perusahaan yang masih bergantung pada PLTU batu bara.
Namun, balasan yang diterima hanya menyebut perusahaan akan mengembangkan kebijakan pengurangan karbon melalui penguatan manajemen risiko terkait batu bara, tanpa peta jalan yang jelas untuk keluar dari pembiayaan tersebut.
Fans K-pop Indonesia Makin Aktif dalam Isu Sosial
Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas penggemar K-pop di Indonesia semakin aktif terlibat dalam isu sosial, kemanusiaan, dan lingkungan.
Salah satu pendukung kampanye ini adalah fanbase My Day and Jars Social Project, komunitas penggemar Day6 dan eaJ yang dikenal aktif melakukan penggalangan dana, donasi korban bencana, serta aksi berbasis komunitas.
Perwakilan fanbase, Nunik, menyebut pendanaan Hana Bank terhadap operasi nikel berbasis batu bara di Pulau Obi mengecewakan banyak penggemar.
Ia menilai Hana Bank perlu membuktikan komitmen iklimnya dan tidak menjadikan kolaborasi dengan idol K-pop sebagai alat pencitraan hijau atau greenwashing.
Petisi Sudah Ditandatangani Lebih dari 1.000 Orang
Sejak diluncurkan pada 9 April 2026, petisi “Hana Bring K-pop Not Coal” telah mengumpulkan lebih dari 1.000 tanda tangan.
Para penandatangan mendesak Hana Bank segera menghentikan pendanaan terhadap perusahaan yang masih bergantung pada pembangunan PLTU batu bara baru.
Tekanan ESG ke Lembaga Keuangan Meningkat
Kasus ini menunjukkan meningkatnya tekanan publik terhadap lembaga keuangan global dalam menerapkan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) secara konsisten.
Bagi sektor perbankan, isu keberlanjutan kini bukan hanya soal reputasi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam strategi bisnis jangka panjang dan kepercayaan publik. (jas)
- ARMY Bersiap! BTS Bawa Konser Pembuka Tur Dunia 2026 ke Layar Lebar Lewat ‘Arirang’ Live Viewing
- Penggemar K-pop Indonesia Desak Hana Bank Hentikan Pendanaan Batu Bara, Bawa G-Dragon & An Yu-jin ke Indonesia
- TOP 10 Tokoh Publik Paling Positif bagi Citra Korea Selatan, Ada BTS Hingga Son Heung-min
- Perempuan Inovasi 2025 Demo Day: Kekuatan Perempuan dalam Transformasi Profesi di Era AI





