Populix Soroti Kesenjangan Upah: Beban Kerja Domestik Perempuan Setara 31 Hari Kerja per Tahun
TEMUAN POPULIX - Temuan Populix memperlihatkan bahwa pekerjaan domestik dan pengasuhan memiliki konsekuensi ekonomi yang lebih luas/ HO to Avnmedia.id
AVNMEDIA.ID - Persoalan kesetaraan upah antara perempuan dan laki-laki di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan nominal gaji.
Beban pekerjaan domestik dan pengasuhan yang lebih banyak ditanggung perempuan turut menjadi faktor yang memengaruhi ruang mereka untuk bekerja dan mengembangkan karier.
Temuan terbaru Populix dalam studi “Studi Lanjut Kesenjangan Upah: Beban Pengasuhan dan Kerja Domestik yang Luput dari Hitungan Ekonomi” menunjukkan perempuan urban mengalokasikan 252 jam lebih banyak untuk pekerjaan domestik dalam setahun dibandingkan laki-laki.
Jika dikonversikan dengan standar delapan jam kerja per hari, waktu tersebut setara dengan 31 hari kerja.
Temuan ini disampaikan bertepatan dengan momentum Hari Kesetaraan Upah Internasional, ketika isu kesenjangan pendapatan antara pekerja perempuan dan laki-laki kembali menjadi perhatian.
Selisih Rata-Rata Upah Perempuan dan Laki-Laki Capai 22 Persen
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2026 mencatat rata-rata upah buruh laki-laki mencapai Rp3,69 juta per bulan, sementara perempuan memperoleh rata-rata Rp2,86 juta.
Dengan demikian, terdapat selisih sekitar Rp830 ribu atau 22 persen secara agregat.
Angka tersebut tidak secara langsung mengukur kesenjangan upah untuk pekerjaan yang sama. Namun, data itu menunjukkan masih terdapat perbedaan hasil ekonomi yang diterima pekerja laki-laki dan perempuan.
Di sisi lain, studi Populix memperlihatkan bahwa perempuan juga mengalokasikan waktu lebih besar untuk pekerjaan yang tidak dibayar, khususnya pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan.
Policy & Social Researcher Populix Anisa Dwi Ariyani mengatakan perempuan memang menghabiskan rata-rata 22 menit lebih sedikit untuk pekerjaan berbayar. Namun, ketika pekerjaan domestik turut dihitung, total waktu kerja harian perempuan justru lebih panjang.
Perempuan rata-rata menghabiskan 3 jam 14 menit per hari untuk pekerjaan domestik. Angka ini 41 menit atau sekitar 27 persen lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang mengalokasikan sekitar 2 jam 33 menit.
“Pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan masih dianggap sebagai unpaid labor atau pekerjaan tanpa upah, dan luput dari hitungan ekonomi. Padahal bila dihitung nilai ekonomisnya, selisih waktu pekerjaan domestik dan pengasuhan anak yang dibebankan kepada perempuan setara 31 hari kerja dengan hitungan 8 jam kerja sehari,” ujar Anisa.
Studi tersebut dilakukan terhadap 1.000 rumah tangga urban yang bekerja, dengan memetakan beban pengasuhan, pekerjaan domestik, hingga dampaknya terhadap aktivitas dan kesempatan karier perempuan.
Beban Pengasuhan Tidak Hanya Ditentukan Durasi
Populix mengukur beban pengasuhan menggunakan Gendered Care Burden Index, yang mencakup tiga dimensi utama, yakni beban waktu, beban keputusan dan mental, serta kekurangan dukungan pengasuhan.
Secara keseluruhan, rumah tangga urban mencatat skor beban pengasuhan 45,7 dari 100, yang masuk kategori menengah.
Sebanyak 65,1 persen responden berada pada kategori beban menengah, sedangkan 3,4 persen masuk kategori beban tinggi.
Menariknya, sumber beban terbesar bukan berasal dari durasi waktu pengasuhan. Dimensi kekurangan dukungan pengasuhan mencatat skor tertinggi sebesar 57,5, diikuti beban keputusan dan mental sebesar 54,6.
Sementara itu, dimensi beban waktu memiliki skor 24,9.
Temuan tersebut menunjukkan persoalan pengasuhan di keluarga urban bukan semata-mata mengenai berapa banyak waktu yang digunakan, tetapi juga seberapa besar dukungan yang tersedia bagi keluarga.
Salah satu tantangannya adalah keterbatasan layanan pengasuhan anak dengan biaya dan kualitas yang sesuai kebutuhan keluarga.
Populix mencatat biaya pengasuh anak berkualitas di Jakarta saat ini dapat berada pada kisaran separuh hingga satu kali upah minimum provinsi. Kekhawatiran mengenai keamanan dan kualitas layanan juga meningkat seiring munculnya berbagai kasus kekerasan yang melibatkan oknum pengasuh.
“Kombinasi antara keterbatasan layanan, biaya yang tinggi, dan keraguan terhadap kualitas menempatkan banyak keluarga dalam pilihan yang sulit. Akibatnya sebagian perempuan harus mengurangi waktu kerja, menolak peluang karier, atau mempertimbangkan berhenti bekerja karena tidak menemukan dukungan pengasuhan yang sesuai,” jelas Anisa.
Beban Domestik Perempuan Mencakup Pekerjaan Mental
Pekerjaan domestik yang dibebankan kepada perempuan juga tidak sebatas aktivitas fisik seperti memasak, membersihkan rumah, atau mengurus anak.
Populix menemukan perbedaan cukup signifikan pada dimensi beban keputusan dan mental. Skor perempuan mencapai 59,7, sedangkan laki-laki 48,5.
Artinya, terdapat selisih 11,2 poin atau sekitar 23 persen.
Sebanyak 71,7 persen perempuan juga mengatur sedikitnya 60 persen keputusan pengeluaran harian rumah tangga.
Tanggung jawab tersebut mencakup berbagai pekerjaan yang kerap tidak terlihat, mulai dari memikirkan kebutuhan keluarga, mengatur jadwal anak, merencanakan belanja hingga memastikan pembayaran tagihan.
Beban tersebut kemudian berpengaruh pada tingkat kewalahan.
Sebanyak 34,9 persen perempuan mengaku sering atau sangat sering merasa kewalahan akibat tanggung jawab rumah tangga. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan laki-laki yang mencapai 18,4 persen.
Hanya 3,6 persen perempuan yang menyatakan tidak pernah merasa kewalahan, sementara pada laki-laki angkanya mencapai 15,9 persen.
“Pekerjaan domestik yang dilakukan perempuan tidak berhenti pada aktivitas fisik yang terlihat. Ada tanggung jawab untuk terus mengingat, merencanakan, dan mengambil keputusan bagi seluruh anggota keluarga. Beban ini tidak memiliki jam mulai dan selesai, tetapi dapat menguras energi serta ruang yang tersedia untuk pekerjaan berbayar,” kata Anisa.
Perempuan Pencari Nafkah Utama Hadapi Beban Pengasuhan Tertinggi
Temuan Populix juga menunjukkan status sebagai pencari nafkah utama tidak otomatis mengurangi beban domestik perempuan.
Perempuan yang menjadi pencari nafkah utama keluarga justru mencatat skor beban pengasuhan tertinggi, yakni 51,9, lebih tinggi dibandingkan skor rata-rata seluruh responden sebesar 45,7.
Pada kelompok yang sama, skor beban keputusan dan mental mencapai 67,0.
Jika dibandingkan dengan laki-laki yang juga menjadi pencari nafkah utama, perempuan mencatat skor beban keputusan 17,3 poin lebih tinggi dan beban waktu 9,9 poin lebih tinggi.
Sebanyak 8,2 persen perempuan pencari nafkah utama bahkan masuk kategori beban pengasuhan tinggi. Ini merupakan proporsi terbesar dibandingkan kelompok lainnya.
35,2 Persen Rumah Tangga Hadapi Double Burden
Beban pengasuhan juga beririsan dengan tekanan ekonomi.
Populix menemukan 35,2 persen responden masuk dalam kelompok Double Burden, yakni rumah tangga yang mengalami tekanan ekonomi sekaligus menanggung beban pengasuhan kategori menengah hingga tinggi.
Kelompok ini menjadi segmen terbesar dalam survei, dengan 65,1 persen anggotanya merupakan perempuan.
Perempuan sekitar 1,5 kali lebih mungkin berada dalam kelompok Double Burden dibandingkan laki-laki, dengan proporsi masing-masing 41,8 persen dan 27,2 persen.
Di antara rumah tangga yang masuk kelompok tersebut, 46,6 persen mengaku sering atau sangat sering merasa kewalahan. Sementara itu, 54,3 persen tidak menggunakan layanan pengasuhan.
Menurut Anisa, temuan tersebut menunjukkan isu kesetaraan upah perlu dilihat bersama dengan akses perempuan untuk mempertahankan pekerjaan dan mengembangkan karier.
“Studi ini memang tidak mengukur penyebab kesenjangan upah secara langsung, namun memperlihatkan bahwa perempuan masih mencurahkan lebih banyak waktu untuk pekerjaan domestik dan bertanggung jawab dalam pengelolaan rumah tangga yang lebih besar. Bahkan ketika mereka menjadi tulang punggung keluarga sekalipun,” ujarnya.
Temuan Populix memperlihatkan bahwa pekerjaan domestik dan pengasuhan memiliki konsekuensi ekonomi yang lebih luas. Ketika waktu, energi, dan tanggung jawab pengambilan keputusan lebih banyak berada di pihak perempuan, ruang yang tersedia untuk pekerjaan berbayar dan pengembangan karier ikut terpengaruh.
Dengan demikian, pembahasan kesetaraan upah tidak hanya berada di ruang kerja, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana pekerjaan domestik, pengasuhan, dan dukungan keluarga dihargai dalam struktur ekonomi. (jas)
- Populix Ungkap 44% Masyarakat Khawatir akan Transparansi Pengelolaan Dana TAPERA
- Survei Populix: 94 % Penumpang Puas Gunakan Kereta Cepat Whoosh Jakarta - Bandung
- Tak Cuma Gaji, Tiga Tunjangan Ini Wajib Ada untuk Menarik Pelamar Kerja
- Riset Populix: 46% Perusahaan Kesulitan Mencari Calon Karyawan, Ini Detail Ketimpangan yang Terjadi





