Kenikmatan Matcha, Selera atau Hanya Ikut FOMO?

Beneran Suka Matcha?

Fenomena matcha: kenikmatan matcha, rasa atau sekadar FOMO/ Foto: 123rf

AVNMEDIA.ID - Popularitas matcha, minuman berbasis bubuk teh hijau Jepang yang telah berusia ratusan tahun, kini mengalami lonjakan luar biasa di seluruh dunia. 

Beberapa bisa merasakan kenikmatan matcha namun sebagian lagi menganggap bahwa minuman hijau ini rasanya seperti rumput.

Dari kafe di Jakarta sampai kedai Instagramable di Paris, warna hijau cerah matcha memenuhi lini masa media sosial dan menu minuman kekinian. 

Namun, di balik tren dan kenikmatan matcha muncul pertanyaan penting apakah orang benar‑benar suka matcha, atau mereka meminumnya karena takut ketinggalan tren (FOMO)?

Popularitas Matcha dan Estetika Media Sosial

Matcha telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup visual media sosial. 

Estetika warnanya yang hijau cerah menjadikannya sangat cocok untuk difoto, sehingga banyak orang membeli matcha bukan semata karena rasanya, namun karena penampilannya di foto sebuah alasan yang lebih berkaitan dengan citra diri di media sosial daripada selera pribadi.

Banyak konsumen yang bahkan tidak menghabiskan minuman mereka, tujuan utamanya adalah mendapatkan konten yang “Instagrammable”.

FOMO dan Pengaruh Platform Digital

Faktor FOMO ini semakin diperkuat oleh kekuatan algoritma platform seperti TikTok dan Instagram. 

Video‑video kreator yang memperlihatkan persiapan dan rutinitas minum matcha sering kali mendapatkan jutaan tampilan, yang kemudian menginspirasi banyak orang lain untuk mengikuti tanpa benar‑benar mempertimbangkan apakah mereka menyukai rasanya atau tidak.

Di beberapa forum online, konsumen dan barista bahkan mengeluhkan bahwa banyak pelanggan memesan matcha hanya untuk foto, lalu minumannya ditinggalkan.

Konsumen yang Suka Matcha Sejati

Tidak semua orang yang minum matcha hanya karena tren. 

Ada kelompok konsumen yang benar‑benar menghargai rasa unik dengan kenikmatan matcha dan manfaat kesehatannya. 

Matcha kaya antioksidan, memberikan energi lebih tenang dibanding kopi, dan menjadi pilihan populer bagi generasi muda yang sadar kesehatan. 

Banyak orang juga menikmati ritual menyiapkan matcha sebagai momen ketenangan atau bentuk mindfulness.

Nilai Budaya dan Tradisi

Selain tren, ada konsumen yang menyukai matcha karena tradisi budaya dan nilai historisnya.

Matcha memiliki akar dalam upacara minum teh Jepang dan dihargai karena cara pembuatannya yang rumit dan citarasanya yang khas. 

Bagi sebagian orang, kecintaan terhadap matcha tumbuh dari pengalaman otentik ini bukan sekadar ikut tren.

Performative Matcha: Identitas dan Gaya Hidup

Fenomena sosial lain yang perlu diperhatikan adalah performative matcha, yaitu kebiasaan menunjukkan konsumsi matcha sebagai simbol identitas dan gaya hidup tertentu. 

Dalam konteks ini, matcha lebih menjadi alat untuk mengekspresikan diri ketimbang sekadar minuman.

Kesimpulan

Alasan banyak orang minum matcha bukan satu‑dimensi. 

Ada yang benar‑benar menikmati rasanya dan manfaatnya, sementara yang lain lebih terpengaruh oleh tren sosial dan keinginan untuk “tampil” di media sosial. 

Di era digital saat ini, garis antara selera pribadi dan budaya FOMO sering kali blur, terutama ketika sebuah produk seperti matcha menjadi ikon estetika dalam kehidupan sehari‑hari. (naf)

Related News
Recent News
image
Trending Mewah dan Elegan, Intip Seserahan Lamaran Syifa Hadju dan El Rumi Bernilai Fantastis
by Nayara Faiza2026-01-23 15:06:35

Deretan seserahan mewah El Rumi untuk Syifa Hadju, dari tas branded hingga perhiasan berlian bernila

image
Trending Peluang Bisnis di Balik Kenikmatan Matcha yang kian Diminati Pasar
by Nayara Faiza2026-01-22 18:18:46

Peluang bisnis matcha terbuka luas dari kenikmatan matcha dan tren pasar yang terus berkembang