Google Melawan! Ajukan Banding soal Putusan Monopoli Departemen Kehakiman AS
GOOGLE - Fokus utama sengketa saat ini adalah kewajiban Google membagikan data dan hasil pencarian ke mesin pencari pesaing/ Foto: Pexels
AVNMEDIA.ID - Google resmi mengajukan banding atas putusan besar Departemen Kehakiman AS (DOJ) yang menyatakan bisnis mesin pencarinya sebagai monopoli.
Sambil menunggu proses hukum berjalan, raksasa teknologi ini meminta pengadilan menunda perubahan yang diwajibkan, termasuk perintah untuk membagikan data pencarian kepada pesaing.
Google Tolak Putusan DOJ, Ajukan Banding
Dalam langkah yang sudah diprediksi pengamat teknologi, Google menegaskan akan melawan keputusan DOJ.
Lewat blog resmi Keyword, Google menyatakan telah meminta pengadilan untuk menangguhkan “remedi”—yaitu hukuman dan perubahan yang diperintahkan hakim—sampai proses banding selesai.
Fokus utama sengketa saat ini adalah kewajiban Google membagikan data dan hasil pencarian ke mesin pencari pesaing.
Google berargumen langkah ini tidak hanya tidak adil, tetapi juga berisiko bagi privasi pengguna dan dapat menghambat inovasi perusahaan lain dalam membangun teknologi pencarian sendiri.
“Pengadilan mengabaikan fakta bahwa pengguna memilih Google karena mereka mau, bukan karena dipaksa,” tegas Google dalam keterangannya.
Perusahaan juga menyoroti fakta bahwa pembuat browser besar seperti Apple dan Mozilla tetap menggunakan Google karena memberikan pengalaman terbaik bagi pengguna.
Dampak Hukum Terhadap Dunia Pencarian
Sengketa ini bermula dari putusan 2024, ketika hakim menyatakan Google memegang monopoli ilegal di ranah pencarian.
Masalah utama adalah praktik Google membayar miliaran dolar agar menjadi mesin pencari default di perangkat seperti iPhone, sehingga menghalangi kompetitor.
Awalnya, DOJ mengajukan beberapa opsi ekstrem, termasuk memaksa Google menjual browser Chrome.
Namun pengadilan akhirnya memilih solusi “lebih lunak”, yaitu memaksa Google membagikan datanya agar mesin pencari kecil bisa mengejar ketertinggalan.
Jika banding Google berhasil, operasi bisnis berjalan normal.
Namun jika remedi tetap berlaku, cara pengguna mencari informasi di internet bisa berubah signifikan.
Pesaing yang lebih kecil bisa memanfaatkan data Google, membuat Bing, DuckDuckGo, dan mesin pencari AI baru menjadi alternatif yang lebih kompetitif.
Apakah Pengguna Memilih Google karena Mau atau Terpaksa?
Argumen Google memang ada benarnya: popularitas Google tidak selalu berarti monopoli.
Banyak pengguna kembali ke Google karena hasil pencarian lebih relevan dan pengalaman lebih nyaman dibandingkan pesaing.
Untuk saat ini, bilah pencarian di browser dan smartphone tidak akan berubah dalam semalam.
Proses banding butuh waktu, dan Google siap mempertahankan posisinya setiap langkah. (jas)



