Es Campur Legendaris dan Roti Kukus Kekinian, Sama-Sama Tumbuh Lewat Digitalisasi
ROTI KUKUS Okurokus/ HO to Avnmedia.id
AVNMEDIA.ID - Bagi banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), bisnis bukan sekadar soal jualan atau mencari keuntungan.
Di balik setiap gerobak, etalase, hingga lapak sederhana, ada cerita keluarga, perjuangan hidup, sekaligus harapan yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Hal itu terlihat dari kisah Muhammad Amin Ma’ruf dan Lukman, dua pelaku UMKM yang datang dari latar belakang berbeda, tetapi sama-sama berupaya menjaga usaha tetap tumbuh di tengah perubahan zaman.
Dari es campur legendaris di kantin kampus hingga roti kukus yang lahir dari keinginan sederhana seorang istri, keduanya menemukan satu kesamaan: digitalisasi membantu usaha kecil mereka bertahan dan berkembang.
Menjaga Warisan Es Campur Sang Ayah
Di kantin Politeknik AUP Jakarta, Es Campur Pak Teguh sudah menjadi bagian dari keseharian mahasiswa sejak era 1980-an.
Kini, usaha tersebut diteruskan oleh Muhammad Amin Ma’ruf, pemuda 26 tahun yang memilih melanjutkan warisan sang ayah.
Bagi Amin, mempertahankan usaha keluarga bukan hanya soal berjualan minuman segar, tetapi juga menjaga hubungan yang sudah terbangun puluhan tahun dengan mahasiswa maupun alumni.
Ia masih mengingat pesan sederhana dari ayahnya: jangan lupa menyapa pelanggan lama.
Pesan itu hingga kini tetap ia pegang sebagai bagian dari identitas usaha keluarganya.
Namun, perubahan kebiasaan pelanggan membuat Amin harus mulai beradaptasi.
Mahasiswa kini semakin terbiasa melakukan transaksi tanpa uang tunai. Dari situ, Amin mulai memanfaatkan pembayaran digital untuk membantu operasional harian.
Menurutnya, transaksi menjadi lebih praktis, terutama saat jam makan siang yang ramai.





