DPRD Samarinda Siapkan Wacana Layanan Bayi Tabung di RSUD I.A. Moeis
DPRD - Wakil Ketua DPRD Kota Samarinda, Celni Pita Sari/ Foto: IST
AVNMEDIA.ID - Pengembangan layanan kesehatan reproduksi di Samarinda mulai diarahkan pada penambahan jenis pelayanan yang selama ini belum tersedia di rumah sakit daerah.
Salah satu yang tengah didorong DPRD Kota Samarinda ialah menghadirkan layanan bayi tabung di RSUD I.A. Moeis.
Wakil Ketua DPRD Kota Samarinda Celni Pita Sari menyampaikan, gagasan tersebut sudah masuk dalam pembahasan bersama Pemerintah Kota Samarinda.
Sejumlah aspek masih harus dipersiapkan sebelum layanan tersebut dapat diwujudkan, mulai dari kebutuhan fasilitas, perangkat medis, teknis pelayanan hingga dukungan anggaran.
"Kita juga berharap kita bisa mempunyai program bayi tabung. Ini tadi sudah kita rencanakan, kita juga bicara apa saja yang dibutuhkan," jelasnya.
Menurut Celni, rencana itu belum dapat langsung direalisasikan karena kesiapan rumah sakit perlu dihitung secara menyeluruh.
Pemerintah daerah dan DPRD masih perlu mengetahui kebutuhan peralatan sekaligus memperkirakan biaya yang harus disiapkan.
"Kita lihat rencananya bagaimana dan biayanya berapa, sehingga nanti warga Samarinda khususnya tidak perlu jauh-jauh lagi untuk melakukan proses bayi tabung di luar daerah," ucap Celni.
Selama ini, pasangan yang membutuhkan program bayi tabung dan belum mendapatkan layanan tersebut di Samarinda harus mempertimbangkan perjalanan ke luar daerah.
Kondisi itu bukan hanya menambah pengeluaran, tetapi juga membuat pasien harus menyediakan waktu lebih banyak untuk menjalani rangkaian pemeriksaan dan tindakan medis.
Celni menilai keberadaan layanan tersebut di rumah sakit milik pemerintah daerah dapat menjadi kemudahan tersendiri bagi masyarakat.
Pasien tidak lagi harus berulang kali melakukan perjalanan menggunakan transportasi udara untuk memperoleh pelayanan yang dibutuhkan.
"Itu juga bisa menghemat ongkos dan juga keamanan bayinya lebih terjaga karena enggak perlu bolak-balik naik pesawat," terangnya.
Pembahasan mengenai program tersebut, lanjut Celni, masih akan dilanjutkan dengan melihat aspek teknis serta kebutuhan fasilitas.
Spesifikasi perangkat medis yang dibutuhkan dan nilai pengadaannya menjadi bagian yang perlu dikaji sebelum program masuk ke tahap pelaksanaan.
"Masih kita rencanakan. Kita juga mau lihat teknisnya bagaimana, terus anggarannya berapa, harga alatnya berapa," tuturnya.
Ia membuka peluang agar kebutuhan layanan bayi tabung mulai dimasukkan dalam pembahasan anggaran 2027.
Perencanaan sejak awal dinilai penting agar kebutuhan program dapat dihitung dan disiapkan secara lebih terukur.
"Kalau bisa segera direalisasikan, mungkin di anggaran 2027, mumpung sekarang lagi masa perencanaan," terangnya.
Meski demikian, Celni menekankan bahwa percepatan program harus tetap disertai kesiapan pelayanan.
Fasilitas, peralatan, sumber daya pendukung dan standar medis perlu dipastikan terlebih dahulu sehingga layanan yang nantinya diberikan benar-benar mampu memenuhi kebutuhan pasien.
Dorongan terhadap layanan bayi tabung tersebut juga menjadi bagian dari penguatan fasilitas kesehatan milik Pemerintah Kota Samarinda. RSUD I.A. Moeis sebelumnya telah mendapatkan sejumlah fasilitas baru, di antaranya Gedung Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Instalasi Gizi serta Laboratorium Kateterisasi Jantung.
Menurut Celni, peningkatan fasilitas kesehatan juga terlihat dari pengembangan sejumlah puskesmas.
Empat fasilitas kesehatan tingkat pertama telah mengalami transformasi dan dinilai memberikan lingkungan pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat.
"Kita bersyukur ada empat fasilitas puskesmas yang sudah kita resmikan. Dilihat dari fasilitasnya, kita bersyukur bahwa di era efisiensi ini kita masih bisa mewujudkan fasilitas untuk masyarakat yang kualitasnya jauh lebih baik," jelasnya.
Penilaian tersebut juga diperkuat dengan hasil studi banding yang dilakukan DPRD Samarinda untuk melihat kondisi fasilitas puskesmas di daerah lain.
Dari kegiatan itu, Celni menyebut Samarinda memiliki fasilitas yang cukup unggul.
"Kita sudah studi banding puskesmas. Kita adalah salah satu yang terbaik," ucapnya.
Namun, peningkatan sarana dan prasarana menurutnya harus berjalan beriringan dengan pembenahan kualitas pelayanan.
Fasilitas yang semakin lengkap perlu didukung tenaga kesehatan dan sumber daya manusia yang mampu memberikan pelayanan secara optimal.
"Saya berharap fasilitasnya sudah ditunjang dengan baik. Semoga pelayanannya juga bisa jauh lebih baik," ungkapnya.
Ia berharap pengembangan layanan kesehatan di Samarinda terus bergerak dari sekadar pembangunan fisik menuju penambahan jenis pelayanan yang semakin beragam.
Dengan begitu, masyarakat dapat memperoleh lebih banyak kebutuhan layanan medis di daerah sendiri.
Rencana menghadirkan program bayi tabung di RSUD I.A. Moeis pun menjadi salah satu bentuk pengembangan layanan yang tengah didorong.
Jika nantinya terealisasi, masyarakat Samarinda tidak perlu lagi pergi ke luar daerah hanya untuk mendapatkan layanan tersebut. (adv)





